cara adaptasi benih nila ke air asin

Ikan Nila adalah satu spesies ikan air tawar yang sangat tepat untuk menunjang ketahanan pangan di Indonesia. Ikan Nila memijah sepanjang tahun dan mampu hidup dalam rentang salinitas 0-35 ppt. Proses pemijahan Ikan Nila secara massal adalah teknik yang paling sederhana. Induk ditebar setelah beberapa minggu benih dapat dipanen. Letak keefisiensinya yakni benih langsung memanfaatkan pakan alami yang berada di kolam. Pada teknik ini, pemanenan benih dapat dilakukan pada saat fase burayak atau yuwana. Pergantian air yang cukup semakin mempertinggi padat tebar pemijahan. Teknik yang paling intensif adalah mengumpulkan telur dari mulut dan menetaskannya dalam egg incubator khusus. Benih Ikan Nila hasil pemijahan di air tawar dapat diadaptasikan ke air payau secara bertahap dengan kenaikan salinitas 5 ppt/hari.
 
Proses pemijahan diawali dengan pembuatan sarang oleh Nila jantan dengan cara menggali dan membuat lingkaran wilayah pemijahan di tanah. Lingkaran pemijahan berdiameter sekitar 2 kali panjang tubuhnya. Setelah berhasil mendapatkan pasangan betina matang kelamin untuk memijah maka nila jantan kemudian merangsang betina untuk meletakkan telur-telurnya di sarang. Nila jantan kemudian membuahi telur tersebut. Telur diambil dengan mulut oleh Nila betina untuk ditetaskan.
 
Induk jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah dengan melihat lubang-lubang pengeluaran di sekitar anus. Di sekitar anus, Induk jantan memiliki 2 lubang yakni lubang depan sebagai alat keluar sperma dan urin sedangkan lubang kedua berfungsi untuk keluar kotoran. Induk betina memiliki 3 lubang yakni lubang pertama untuk keluar urin, lubang kedua untuk keluar telur dan lubang ketiga untuk keluar kotoran.
 
Metode pembenihan ikan Nila
 
1.    Pembenihan Ikan Nila di Kolam Terbuka
a.    Metode Pengumpulan Benih : Induk ditebar ke kolam, dibiarkan bertelur dan benih dibiarkan tumbuh besar secara alami. Berat induk yang digunakan berkisar dari 50gram – 1.000gram. Perbandingan jantan/betina yang digunakan 1:3 dengan padat tebar 100-200 kg / ha atau dengan perhitungan 1 ekor induk/m2.
b.    Metode Pengumpulan Burayak : Pengumpulan burayak dimulai pada hari ke-10 hingga hari ke-21 setelah penebaran induk. Kemudian burayak dibesarkan dalam kolam pemeliharaan benih sampai berumur 40 hari. Padat tebar induk 4 ekor/m2 dengan 50 gr-250gr. 
 
2.    Pembenihan Ikan Nila di Hapa : Hapa dibuat berukuran 3m x 3m x 1,5. Padat tebar induk 4 ekor/m2 dengan perbandingan jantan/betina 1:3, berat induk 50 gram-250 gram. Pakan harus diberikan cukup pada metode ini karena kurangnya makanan alami dan keterbatasan ruang.
 
3.     Pembenihan Ikan Nila di Bak
a.    Pemanenan telur dan larva ikan nila : Pengambilan telur dan larva hasil pemijahan akan diperoleh telur/larva sebanyak 1-12 butir telur/larva per gr induk. Induk betina pengeram memiliki ciri mulut membesar dan tertutup. Induk betina yang mengerami telur atau larva diambil dari mulut induk betina dengan menggojok mulut betina dalam air di waskom.
 
b.    Pemeliharaan larva ikan nila : Bak pemeliharaan larva diisi air dengan ketinggian 10 cm. Larva yang telah habis kuning telur diambil dari akuarium lalu ditempatkan dalam bak pemeliharaan larva. Larva ditebar dengan kepadatan maksimal 5 ekor/L. Pakan diberikan berupa pakan benih nila kadar protein 35%-50% yang telah diblender sebanyak 20%-50% berat tubuh atau diberikan berlebih (ad libitum). Pakan diberikan pada pagi, siang dan sore hari. Pada awal minggu ke-2 dilakukan penambahan ketinggian air 3 cm/hari. Setelah air mencapai ketinggian 40 cm dilakukan pergantian air sebanyak 30%/hari.
 
c.    Pemanenan dan pengepakan benih ikan nila : Benih diserok sedikit demi sedikit ketika air tersisa sedalam 5 cm. Benih ditaruh dalam waskom kemudian dikumpulkan dalam hapa panen yang telah disiapkan pada bak lain.
 
Adaptasi Salinitas pada Ikan Nila
          Ikan nila umumnya hidup di perairan tawar namun dapat pula hidup di perairan laut, dengan rentang salinitas 0 – 35 ppt. Dimana, untuk hidup di salinitas yang lebih tinggi dari perairan tawar, ikan nila harus mengalami proses aklimatisasi terlebih dahulu.
 
          Kondisi cairan sel ikan air tawar memiliki kepekatan lebih tinggi dibanding media hidupnya. Air masuk ke dalam tubuh Ikan Nila dari berbagai permukaan tubuh. Untuk mengatasinya Ikan Nila harus banyak mengeluarkan urin dengan resiko kehilangan garam. Sel klorid dalam insang yang membantu transport garam ini kembali. Pada air payau atau laut, kondisi menjadi terbalik yakni cairan internal sel bersifat kurang pekat dibanding media hidupnya. Hal ini memungkinkan terjadinya dehidrasi sel, sehingga Ikan Nila harus banyak minum dan sedikit kencing. Akibatnya garam dalam tubuh menjadi meningkat. Namun perkembangan sel klorid yang cepat dan mencukupi mampu mengatasi hal ini dengan cara transport aktif garam. Kemampuan euryhaline Ikan Nila didukung oleh perkembangan sel klorid pada insang, perbaikan permeabilitas usus dan daya saring ginjal terhadap garam. Perubahan organ tersebut berlangsung secara bertahap umumnya mampu menoleransi perubahan maksimal 5 ppt/hari. Cara adaptasi Ikan Nila (benih dan dewasa) adalah dengan menaikkan salinitas air secara bertahap maksimal 5 ppt/hari. Salinitas berpengaruh penting terhadap reproduksi dan pertumbuhan. Ikan Nila tidak akan memijah pada salinitas >30 ppt. Pertumbuhan benih Ikan Nila semakin baik seiring bertambahnya kadar garam (sampai 30 ppt) karena terangsangnya hormon pertumbuhan (somatotrop).
 
Sumber :

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>