JADIKAN KOTA BITUNG SEBAGAI PUSAT PERIKANAN TUNA

JADIKAN KOTA BITUNG SEBAGAI PUSAT PERIKANAN TUNA
(“WORLD TUNA CENTER”)

Dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan berbagai kebijakan guna mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan.  Salah satu kebijakan yang sudah ditetapkan yaitu “Pengembangan Kawasan Industrialisasi” yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sehingga bisa mengakselerasi peningkatan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha perikanan.  Komoditi unggulan perikanan untuk industrialisasi tahap I yaitu tuna, udang, dan rumput laut.

Kebijakan ini mendukung kebijakan pemerintah sebelumnya yaitu mengembangkan kawasan minapolitan atau kota ikan, yang merupakan pembangunan kelautan dan perikanan dari hulu ke hilir berbasis wilayah. Kota Bitung merupakan salah satu kawasan minapolitan/industrialisasi perikanan tangkap dari 9 wilayah di Indonesia. Bitung memiliki letak strategis karena berada di Selat Lembeh yang berhadapan dengan Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik sehingga berperan sebagai pelabuhan perikanan lingkar luar Indonesia. Keberadaannya di bibir Asia dan Pasifik memungkinkan pengembangan Bitung menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi regional di Kawasan Timur Indonesia.

Selain letaknya yang strategis, Bitung memiliki sumberdaya laut dan perikanan yang sangat potensial mencapai 587 ribu ton, sementara yang dimanfaatkan baru 147 ribu ton atau sekitar 25,04% (www.setkab.go.id/pro-rakyat-1513).  Potensi ikan ini tersebar di TelukTomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, Teluk Berau, Laut Sulawesi, dan utara Pulau Halmahera.  Sumberdaya laut yang terkandung di perairan tersebut antara lain ikan tuna, cakalang, tongkol, paruh panjang, ikan tenggiri, cumi-cumi, ikan karang, dan lain-lain.

Melihat potensi sumberdaya laut dan perikanan yang besar ini, pemerintah pusat menetapkan Kota Bitung Sulawesi Utara sebagai pusat perikanan tuna atau ”World Tuna Center”, guna dijadikan salah satu pemasukan devisa bagi negara.  Ikan tuna dari Bitung sudah menjadi salah satu ekspor andalan ke beberapa negara di dunia yang ikut membantu pertumbuhan ekonomi di daerah dan nasional.

Sebagai institusi yang bergerak dalam bidang pelatihan, Balai Diklat Perikanan Aertembaga Bitung menindaklanjuti kebijakan yang sudah diambil pemerintah dengan melaksanakan Pelatihan Penanganan Ikan Tuna diatas Kapal di Kota Bitung yang merupakan kawasan industrialisasi di provinsi Sulawesi Utara bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara.  Pelatihan dilaksanakan sejak tanggal 11 s.d 16 Juni 2012 dengan jumlah peserta 25 orang nelayan.  Pelaksanaan pelatihan ini disambut dengan apresiasi yang tinggi dari Pemerintah Kota Bitung yang dinyatakan oleh Sekretaris Daerah Kota Bitung Drs. Edison Humiang, M.Si.  Dalam sambutannya beliau menyatakan rasa terima kasihnya kepada pihak Balai yang sudah memilih Kota Bitung sebagai tempat pelaksanaan pelatihan.  Pelatihan ini menurut beliau sangat menunjang progam pemerintah melalui penetapan Kota Bitung sebagai daerah Minapolitan sekaligus sentra industrialisasi bagi komoditi tuna.  Lebih lanjut beliau menekankan kepada peserta pelatihan supaya boleh mengikuti semua materi yang diberikan sehingga dapat menjadikan Bitung sebagai alternatif pintu gerbang percontohan minapolitan. Sementara itu Kadis Kelautan dan Perikanan Kota Bitung Ir. Hengki Wowor menekankan pentingnya pembentukan kelompok yang solid dan saling menunjang satu dengan lainnya sehingga nantinya dapat muncul sentra-sentra produksi yang akan mengangkat Kota Bitung menjadi sentra industri tuna.  Dengan adanya pelatihan ini diharapkan pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan 25 orang nelayan dalam menangani ikan tuna diatas kapal secara cepat, cermat dan higienis. 

Pelatihan Penanganan Ikan Tuna diatas Kapal yang dilaksanakan oleh Balai Diklat Perikanan Aertembaga ini bertempat di Pendopo Kecamatan Lembeh Selatan, dan untuk prakteknya dilakukan diatas kapal latih Balai Diklat Perikanan Aertembaga KM. Bobara,  bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta pelatihan terhadap penanganan ikan tuna diatas kapal.  Materi-materi yang diberikan meliputi materi teknis dan materi penunjang, yakni melakukan praktek pengoperasian yang higienis, menentukan mutu tuna segar, mendaratkan hasil tangkapan diatas dek, mempersiapkan hasil tangkapan untuk disimpan, menyimpan hasil tangkapan, mengenal faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembusukan ikan, pengenalan program manajemen mutu terpadu, kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan Kota Bitung, kapita selekta, dan bahaya penggunaan formalin.

Peserta pelatihan mengikuti setiap materi yang diberikan widyaiswara dengan antusias, karena selama ini penanganan ikan tuna belum mendapat perhatian serius, sehingga hasil tangkapan yang tadinya grade A pada waktu akan dijual sudah turun ke grade B atau grade C.  Padahal ikan tuna segar mempunyai harga jual yang tinggi apabila bisa mempertahankan kesegaran mutunya.

Ayo pelaku kelautan dan perikanan Kota Bitung, jadikan Bitung sebagai pusat perikanan tuna atau ”World Tuna Center”, melalui penanganan ikan tuna yang cepat, cermat dan higienis.

Sumber : Humas BPPP Aertembaga

Tags:  ,

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>