PABRIK PAKAN IKAN AKAN BERDIRI DI JAMBI, DUKUNG INDUSTRIALISASI PERIKANAN BUDIDAYA PATIN

PABRIK PAKAN IKAN AKAN BERDIRI DI JAMBI, DUKUNG INDUSTRIALISASI PERIKANAN BUDIDAYA
 

Program Industrialisasi perikanan budidaya khususnya untuk komoditas patin semakin menunjukkan hasil. Pemerintah Propinsi Jambi sebagai salah satu sentra patin di Indonesia, telah berinisiatif untuk mendukung program ini melalui jalinan kerjasama dengan PT. Sinta Prima Feedmill untuk menyediakan pakan ikan patin. PT. Sinta Prima Feedmill akan mendirikan pabrik pakan ikan di Propinsi Jambi dengan tujuan untuk lebih mendekatkan pasar dan produsen pakan, sehingga dapat mengurangi harga pakan yang selama ini menjadi kendala dalam budidaya patin. “Pendirian pabrik pakan ikan di Jambi akan mendukung program industrialisasi perikanan budidaya, khususnya komoditas patin, karena pakan merupakan salah satu kendala yang harus segera diatasi selain ketersedian benih patin yang berkualitas. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam suatu usaha budidaya ikan, mencapai 70 – 80%”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat mengunjungi pabrik pakan PT. Sinta Prima Feedmill bersama Gubernur Jambi di Cileungsi, Bogor.

Sasaran produksi patin pada tahun 2013 yang mencapai 1,1 juta ton diperkirakan membutuhkan pakan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini akan meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. “Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah untuk mendukung ketersediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, sehingga tidak membebani pembudidaya”, papar Slamet.

Penerapan teknologi terkini dalam produksi pakan ikan juga diperlukan. Salah satunya adalah Maggot sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. “Penggunaan maggot sebagai bahan baku pakan perlu dikembangkan. Hanya saja terdapat persoalan yang harus diselesaikan yaitu mahalnya media pertumbuhan maggot. Sehingga perlu dukungan pemerintah daerah melalui pembuatan kebijakan, terkait ketersediaan limbah produksi minyak kelapa sawit atau ampas minyak kelapa sawit. Pengusaha minyak kelapa sawit diharapkan tidak menjual limbah tersebut dengan harga tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya atau oleh pabrik pakan, untuk memproduksi maggot. Hal ini dapat menjadi bukti keberpihakan perusahaan kepada masyarakat”, ungkap SlametPada kesempatan yang sama, pemerintah propinsi Jambi juga menjalin kerjasama dengan PT. Sinta Prima Feedmill dalam penyediaan jagung sebagai bahan baku pakan. “Kerjasama dan sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah, baik pusat dan daerah, swasta dan seluruh stake holder, akan menjadikan semua permasalahan menjadi mudah untuk diatasi. Kita semua harus bekerjasama untuk kemajuan perikanan budidaya, dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan”, pungkas Slamet.

 

[Sumber :

Ditjen PB (rmr)]

djpb.kkp.go.id

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>