INDUSTRIALISASI RUMPUT LAUT BERGULIR DI SUMBA TIMUR-NTT

INDUSTRIALISASI RUMPUT LAUT BERGULIR DI SUMBA TIMUR-NTT
 

Gaung Industrialisasi Kelautan dan Perikanan yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai terdengar sampai ke wilayah Indonesia Bagian Timur. KKP menggandeng propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk kembangkan Industrialisasi komoditas rumput laut, tepatnya di Kabupaten Sumba Timur, ditandai dengan diresmikannya Pabrik Pengolahan Rumput Laut PT. Algae Sumba Timur Lesatari (ASTIL) di Desa Tanamanang, Kecamatan Pahunga Lodu oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, atas nama Menteri Kelautan dan Perikanan. “Pabrik Pengolahan Rumput Laut ini sangat penting keberadaannya di Kabupaten Sumba Timur dalam menampung hasil budidaya rumput laut dari pembudidaya yang ada di sekitar Kabupaten Sumba Timur khususnya maupun Propinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya, sehingga mampu mengurangi biaya transportasi”, demikian disampaikan oleh Slamet pada saat memberikan sambutan pada acara peresmian pabrik tersebut , Kamis (11/7)

 Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu kawasan percontohan minapolitan komoditas rumput laut. Data statistik menunjukkan bahwa produksi rumput laut di Propinsi NTT pada Tahun 2012 sebesar 398.000 ton dan 1.393,8 ton berasal dari Kabupaten Sumba Timur. “Potensi lahan budidaya rumput laut yang cukup besar yang dimiliki oleh kawasan ini, diharapkan dapat meningkatkan produksi rumput laut sehingga mendukung peningkatan produksi secara nasional. Keberadaan pabrik akan dapat meningkatkan nilai tambah produk rumput laut, selaras dengan tujuan program Industrialisasi perikanan yaitu meningkatkan produktivitas, nilai tambah produk serta meningkatkan daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal penyerapan tenaga kerja dan penggerak perekonomian masyarakat” papar Slamet.

Pendirian Pabrik ASTIL ini merupakan bukti nyata adanya sinergitas kinerja antar sector untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dimana “Mesin pengolah rumput laut menjadi chips” oleh Kementerian Perindustrian, “Gedung ruang processing” oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta “Modal kerja” oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. “Sinergitas kinerja seperti ini harus ditularkan ke daerah lain. Sehingga pembangunan akan melaju dengan cepat karena dorongan yang diberikan merupakan dorongan bersama yang semuanya mempunyai satu tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sector kelautan dan perikanan”, papar Slamet.

Pabrik ini dapat memproduksi “Chips” rumput laut sebanyak 2 ton/hari dari bahan baku rumput laut sekitar 6 ton/hari dan akan ditingkatkan kapasitas produksinya untuk mengolah bahan baku rumput laut menjadi 10 ton/hari. Pada tahun 2012, Pabrik ini telah memproduksi “chips” rumput laut sebanyak 124 ribu kg dan dipasarkan ke beberapa perusahaan yang ada di dalam.

Industrialisasi rumput laut pada tahun 2013 di laksanakan di 6 (enam ) Propinsi yaitu  Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. “Akselerasi peningkatan produksi rumput laut melalui program industrialisasi pada tahun 2013, ditargetkan mampu menghasilkan rumput laut yang diolah sebanyak 1.214.299 ton, jumlah pembudidaya sebanyak 37.807 RTP, penyerapan tenaga kerja sebanyak 415.462 orang dan nilai produksi mencapai Rp 1.138 milyar” pungkas Slamet.

 

[Sumber : Ditjen PB (rmr)]

djpb.kkp.go.id

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>