pengiriman benih lele jerebuu ngada flores ntt

pengiriman benih ikan lele dari jogja jawa tengah tujuan ende flores.

penerima bpk antonius goru.  

alamat desa.batajawa kec.jerebuu kabupaten ngada flores ntt

pengiriman hanya sampai di airport ende

pengiriman benih lele tersebut salah kirim karena sebenarnya yang di pesan bibit bawal

bagi anda masyarakat ngada ende flores yang membutuhkan benih ikan lele,gurame,patin,bawal,nila,koan,karper atau ikan mas dalam jumlah sedikit bisa datang ke alamat tersebut atau dapat menghubungi kami forum penjualan benih ikan jogjakarta via telepon/sms di 081328030055.
 

HARGA DAN KETENTUAN
 
*pembelian benih ikan lele bagi pelanggan di luar pulau jawa/ ende akan kami kirim melalui cargo pesawat artinya benih ikan di ambil di airport ende
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan luar Jawa minimal 1 Box.
*harga bibit lele sampai airport di tambolaka Rp.1.985.000,-
Ket :
  • bibit lele Ukuran 2-3      isi  6.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-4        4.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-5       3.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 4-6        2.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 5-7        1.200 ekor/box
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan di sekitar  ngada ende Yang didalam kota tidak memiliki bandara,harus menempuh jalan darat menuju airport terdekat. yaitu di ende
 CARA PEMESANAN
  • pemesanan bibit ikan lele bisa dilakukan melalui telepon, sms atau email atau langsung melalui contact form di website ini. Pastikan data yang anda berikan valid, demi kelancaran komunikasi dan pengiriman.
  • kami akan menyiapkan bibit ikan lele pesanan Anda dan menginformasikan ketersediaannya berikut biaya totalnya kepada Anda
  • jika bibit ikan lele telah siap kirim, kami akan menginformasikan kepada Anda melalui SMS, telepon atau email.
  • kami hanya melayani pembelian secara tunai/via transfer Bank. Jika melalui transfer Bank, yang Anda lalukan adalah melakukan pembayaran ke rekening kami. Begitu dananya telah masuk atau bukti transfernya telah kami terima, kami akan mengirimkan bibit ikan lele  ke alamat Anda.
  • setelah bibit ikan lele diterima, mohon dikonfirmasikan kepada kami.

 

 

 

 

 

 

 

pengiriman benih lele bawal nila kekota raja kupang

pengiriman benih ikan lele dari jogja jawa tengah tujuan kota raja kupang ntt

penerima bpk yos jella

alamat bakunase.kecamatan kota raja kupang ntt

 pengiriman hanya sampai di airport kupang ntt

bagi anda masyarakat kupang yang membutuhkan benih ikan lele,gurame,patin,bawal,nila,koan,karper atau ikan mas dapat menghubungi kami forum penjualan benih ikan jogjakarta via telepon/sms di 081328030055.
 

HARGA DAN KETENTUAN
 
*pembelian benih ikan lele bagi pelanggan di luar pulau jawa/ kupang akan kami kirim melalui cargo pesawat artinya benih ikan di ambil di airport kupang
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan luar Jawa minimal 1 Box.
*harga bibit lele sampai airport di kupang Rp.1.585.000,-
Ket :
  • bibit lele Ukuran 2-3      isi  8.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-4        6.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-5       5.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 4-6        3.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 5-7        1.200 ekor/box
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan di sekitar  kupang Yang didalam kota tidak memiliki bandara,harus menempuh jalan darat menuju airport terdekat. yaitu di kupang
 CARA PEMESANAN
  • pemesanan bibit ikan lele bisa dilakukan melalui telepon, sms atau email atau langsung melalui contact form di website ini. Pastikan data yang anda berikan valid, demi kelancaran komunikasi dan pengiriman.
  • kami akan menyiapkan bibit ikan lele pesanan Anda dan menginformasikan ketersediaannya berikut biaya totalnya kepada Anda
  • jika bibit ikan lele telah siap kirim, kami akan menginformasikan kepada Anda melalui SMS, telepon atau email.
  • kami hanya melayani pembelian secara tunai/via transfer Bank. Jika melalui transfer Bank, yang Anda lalukan adalah melakukan pembayaran ke rekening kami. Begitu dananya telah masuk atau bukti transfernya telah kami terima, kami akan mengirimkan bibit ikan lele  ke alamat Anda.
  • setelah bibit ikan lele diterima, mohon dikonfirmasikan kepada kami.

 

 

 

 

 

 

 

pengiriman benih lele ukuran 5 cm ke kupang ntt

pengiriman benih ikan lele dari jogja jawa tengah tujuan kupang ntt

penerima bpk daniel.  pengiriman hanya sampai di airport kupang ntt

bagi anda masyarakat kupang yang membutuhkan benih ikan lele,gurame,patin,bawal,nila,koan,karper atau ikan mas dapat menghubungi kami forum penjualan benih ikan jogjakarta via telepon/sms di 081328030055.
 

HARGA DAN KETENTUAN
 
*pembelian benih ikan lele bagi pelanggan di luar pulau jawa/ kupang akan kami kirim melalui cargo pesawat artinya benih ikan di ambil di airport kupang
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan luar Jawa minimal 1 Box.
*harga bibit lele sampai airport di kupang Rp.1.585.000,-
Ket :
  • bibit lele Ukuran 2-3      isi  8.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-4        6.000 ekor/box
  • bibit lele Ukuran 3-5       5.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 4-6        3.000 ekor/box
  • bibit lele  Ukuran 5-7        1.200 ekor/box
* Pembelian bibit lele bagi pelanggan di sekitar  kupang Yang didalam kota tidak memiliki bandara,harus menempuh jalan darat menuju airport terdekat. yaitu di kupang
 CARA PEMESANAN
  • pemesanan bibit ikan lele bisa dilakukan melalui telepon, sms atau email atau langsung melalui contact form di website ini. Pastikan data yang anda berikan valid, demi kelancaran komunikasi dan pengiriman.
  • kami akan menyiapkan bibit ikan lele pesanan Anda dan menginformasikan ketersediaannya berikut biaya totalnya kepada Anda
  • jika bibit ikan lele telah siap kirim, kami akan menginformasikan kepada Anda melalui SMS, telepon atau email.
  • kami hanya melayani pembelian secara tunai/via transfer Bank. Jika melalui transfer Bank, yang Anda lalukan adalah melakukan pembayaran ke rekening kami. Begitu dananya telah masuk atau bukti transfernya telah kami terima, kami akan mengirimkan bibit ikan lele  ke alamat Anda.
  • setelah bibit ikan lele diterima, mohon dikonfirmasikan kepada kami.

 

 

 

 

 

 

 

Klaim “Produk no. 1 dan Terbaik” dalam Tinjauan Islam

Klaim

 

Persaingan di dunia bisnis semakin berat. Terlebih bagi para pengusaha yang malas berinovasi. Pada saat yang sama, para konsumen juga semakin cerdas, sehingga loyalitasnya terhadap suatu produk semakin menurun. Kondisi ini mendorong sebagian pengusaha, terlebih yang mengesampingkan aspek halal-haram, menempuh segala macam cara. Satu-satunya pertimbangan utama mereka ialah berhasil mengeruk keuntungan sebesar mungkin. Di antara trik nakal pengusaha dalam pemasaran ialah dengan menggunakan kata-kata bombastis yang membuai konsumen. Betapa banyak perusahaan yang secara sepihak membuat klaim menyesatkan. Semisal slogan “Produk No 1” atau “Paling Murah”.

Klaim sepihak sebagaimana contoh dapat dipastikan palsu alias penipuan. Sebagai konsumen cerdas, Anda pasti menyadari bahwa untuk dapat membuat klaim seperti itu membutuhkan riset dan studi banding terhadap produk lain. Dan untuk melakukannya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, yang dapat membebani atau bahkan merugikan perusahaan. Terlebih bila perusahaan mengetahui bahwa klaim-klaim itu tidak akan ada yang menggugat atau menyoal akurasinya. Klaim sepihak semacam itu melanggar syariat karena nyata-nyata mengandung unsur dusta dan penipuan.

“Kedua orang yang terlibat akad jualbeli masing-masing memiliki hak pilih untuk membatalkan akadnya, selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka perniagaan mereka diberkahi, namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadis tersebut memberikan penekanan bahwa dusta diharamkan walau dapat mewujudkan keuntungan dalam perniagaan.

Suatu hari Imam Auza’i, ketika keluar dari salah satu masjid di kota Beirut, di luar masjid mendapati seorang pedagang bawang merah yang dalam bahasa Arab disebut bashal. Imam Auza’i terkejut karena mendengar propaganda pedagang untuk memasarkan bawang merahnya. Dengan suara lantang, pedagang itu berpromosi: “Duhai bawang yang lebih manis dibanding madu.”

Spontan Imam Al Auza’i berkata, “Subhanallah! Mungkinkah pedagang ini mengira bahwa ada dusta yang dibolehkan? Nampaknya pedagang ini meyakini bahwa dirinya bebas melakukan kedustaan.” (Al- Bidayah wa An-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 10/119)

Dusta klaim sepihak semacam itu kini telah diketahui konsumen, karena dilakukan kepada semua produk. Kesadaran konsumen menjadikan klaim “nomor satu” terasa hambar, tidak cukup ampuh untuk mendongkrak penjualan. Fakta ini mendorong sebagian pengusaha melangkah lebih jauh kenakalannya. Guna mengembalikan keampuhan klaim “nomor satu”, mereka membubuhkan amunisi baru berupa “kampanye hitam” yang ditujukan kepada produk kompetitornya.

Mereka berusaha mengesankan kepada konsumen bahwa produk kompetitornya buruk, mahal, dan tidak bermutu.

Amunisi pemasaran itu menambah tingkat dusta mereka dalam pemasaran. Betapa tidak. Klaim-klaim itu mereka lontarkan saat orang-orang telah membuktikan bahwa kebanyakan produk sejenis sering memiliki fungsi dan mutu yang sama, atau paling kurang menyerupai. Dengan demikian, fenomena ini selain membuktikan adanya praktek dusta dalam kiat pemasaran, juga membuktikan adanya persaingan tidak sehat di antara para pengusaha. Fakta ini menjadi bukti nyata kebenaran sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan kelak pada Hari Kiamat sebagai orang-orang fajir (jahat), kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.” (HR. At-Timizy, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Testimoni Figur Publik

Di antara kiat pemasaran yang juga terbukti cukup ampuh ialah dengan memanfaatkan testimoni atau rekomendasi figur publik, semisal bintang film atau tokoh agama. Nama besar atau popularitas figur publik diharapkan mendongkrak popularitas dan mengatrol penjualan produk. Rekomendasi atau testimoni mereka sering hanyalah kontrak yang mereka teken dengan perusahaan tertentu. Padahal kita menyadari rekomendasi, atau yang dalam bahasa agama disebut ”nasihat”, seharusnya dilandasi kejujuran, dan bukan oleh motif keuntungan harta.

Nilai-nilai iman dan kejujuran yang ditanamkan ajaran agama menenmenentang praktek nasihat atau saran berbasis keuntungan harta dan bukan ketulusan batin. Apalagi fakta telah membuktikan bahwa banyak testimoni dalam iklan tidak terbukti alias dusta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)

Maraknya testimoni berbasis keuntungan yang jauh dari nilai-nilai kejujuran atau nasihat semacam itu adalah bukti nyata rusaknya moral masyarakat. Dan mungkin kondisi inilah yang dimaksudkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sungguh setelah kalian kelak, akan ada generasi yang terbiasa berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka mudah bersaksi, padahal mereka tidak diminta untuk bersaksi, dan mereka mudah bernazar, namun ternyata tidak memenuhi nazarnya. Sebagaimana di tengah-tengah mereka banyak ditemukan orang-orang gemuk (karena berlebih-lebihan ketika makan dan minum).” (Muttafaqun ‘alaih)

Memikirkan kondisi semacam itu memang menyedihkan. Namun sebagai orang beriman, kesedihan Anda tidak sepantasnya menyebabkan putus asa dan akhirnya berpangku tangan. Nilai-nilai iman yang tertanam dalam jiwa Anda pastilah mendorong Anda membuat perubahan, paling kurang pada diri Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Jadilah teladan yang baik bagi masyarakat dalam kehidupan dunia, termasuk dalam urusan perniagan dan pemasaran.

Semoga bermanfaat untuk memahami berbagai fenomena dunia pemasaran yang terus berkembang.

Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

Transaksi dengan Syarat Bebas Tanggung Jawab

Transaksi dengan Syarat Bebas Tanggung Jawab

 

Dalam suatu kasus jual beli barang, penjual mempersyaratkan kepada pembeli, bebas tanggung jawab terhadap segala cacat yang ada pada barang tersebut, dan pembeli menerima persyaratan ini. Apakah persyaratan semacam ini bisa diterima? Sehingga penjual tidak menanggung apapun ketika ada cacat.

Keterangan Dr. Yusuf bin Abdullah As-Syubily menjelaskan,

Ada dua keadaan dalam kasus ini:

Pertama, Pembeli sudah mengetahui semua kondisi barang, baik karena penjual memberitahukan sebelumnya atau karena dia memeriksa sendiri dan melihat adanya cacat pada barang. Dalam kondisi ini, pembeli bebas tanggung jawab dari cacat yang sudah diketahui itu. Sehingga pembeli tidak memiliki hak khiyar untuk membatalkan akad karena cacat yang sudah diketahui tersebut.

Kedua, Pembeli tidak mengetahui adanya cacat barang, dan penjual mempersyaratkan lepas tangan dari semua cacat barang yang bisa jadi muncul pada barang tersebut. Misalnya, seorang menjual mobil dan dia sampaikan, Saya jual mobil ini utuh seperti yang kamu lihat, masih bagus, silahkan diperiksa, dan saya tidak menerima komplain apapun. Kemudian pembeli menyetujuinya. Dalam kasus ini, ada dua rincian hukum,

1. Penjual dibenarkan untuk lepas tangan dari semua cacat yang terjadi, jika PENJUAL benar-benar TIDAK tahu adanya cacat pada barang tersebut, ketika proses tawar menawar. Karena dalam kasus ini pembeli memiliki hak pilih untuk membatalkan akad karena muncul cacat, dan dia sudah merelakan untuk tidak menuntut haknya, dengan menerima persyaratan dari penjual di awal akad.

2. Penjual TIDAK dibenarkan untuk mengajukan persyaratan ini, jika PENJUAL telah mengetahui adanya cacat pada barang dagangannya namun dia rahasiakan. PAdahal cacat itu bisa jadi akan diketahui pembeli ketika barang telah dia manfaatkan. Karena penjual dalam kasus ini terhitung telah melakukan penipuan dan mengelabuhi pembeli. Padahal Rasulullah telah bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

"Siapa yang menipu kami (kaum muslimin) maka itu bukan bagian dari akhlak kami." (HR. Muslim 101)
(Disadur dari diktat: Al-Muamalat Al-Maliyah, Dr. Yusuf bin Abdullah As-Syubili, hlm. 8)

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

Zakat Tanah/Rumah yang Disewakan – Keputusan Al-Mujamma Al-Fiqhi Al-Islami

 
 Zakat Tanah/Rumah yang Disewakan - Keputusan Al-Mujamma Al-Fiqhi Al-Islami

 

Keputusan Al-Mujamma Al-Fiqhi Al-Islami (Lembaga Syariah di bawah Rabithah Alam Islami) tentang Zakat Tanah/Rumah yang Disewakan,

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Majlis Al-Mujamma Al-Fiqhi Al-Islami, di bawah Rabithah Alam Islami, pada pertemua ke-11 yang diadakan di Mekah Al-Mukarramah, tanggal 13 – 20 Rajab 1409 H, bertepatan dengan 19 – 26 Februari 1989 M, membahas tentang zakat tanah yang disewakan. Setelah menimbang berbagai pendapat dan masukan anggota, majlis secara mayoritas memutuskan,

Pertama, tanah yang disiapkan untuk bangunan tempat tinggal sendiri, termasuk Amwal Al-Qiniyah (harta yang murni untuk dimanfaatkan bukan untuk dijual). Sehingga tidak wajib zakat secara mutlak. Baik zakat untuk nilai tanahnya atau zakat nilai sewanya.

Kedua, tanah yang direncanakan untuk diperdagangkan wajib dizakati mengacu pada nilai jualnya. Perhitungan nilai jualnya ketika sudah berlalu satu tahun.

Ketiga, tanah yang disewakan, wajib dizakati untuk nilai sewanya saja dan bukan nilai harganya.

Keempat, mengingat bahwa uang sewa merupakan tanggung jawab penyewa sejak dilakukan akad sewa maka kewajiban zakat nilai sewa pada saat terpenuhinya haul (satu tahun), dihitung sejak akad sewa setelah menerima uang dari penyewa.

Kelima, besar zakat nilai tanah yang diperjual belikan atau besar zakat nilai sewa tanah adalah 2,5%, sebagaimana mata uang.

Wa shallallahu ‘ala sayidina Muhammadin, wa ‘ala aalihi wa shahbihii wa sallah tasliman katsira, walhamdu lillahi rabbbil ‘alamiin

Sumber: http://islamtoday.net/bohooth/artshow-32-4594.htm

 

Transaksi Secara Online – Keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami

 
Transaksi Secara Online - Keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami

 

Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami mengadakan muktamar ke-4 di Jedah KSA, pada 17 – 23 Sya’ban 1410 H, bertepatan dengan 14 – 20 Maret 1990 M.

Al-Majma’ memperhatikan kajian para anggota Al-Majma’ tentang proses transaksi dengan alat komunikasi modern. Beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan Al-Majma’

  • Menyadari perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat.
  • Memahami praktek para pelaku bisnis yang sangat cepat dalam melangsungkan transaksi dan kontrak.
  • Memperhatikan penjelasan para ulama tentang kontrak dan akad secara lisan, tulisan, isyarat, atau melalui utusan.
  • Memahami persyaratan yang berlaku dalam akad: penjual dan pembeli yang berada di satu tempat harus hadir dalam majlis akad – selain wasiat dan mewakilkan – persyaratan adanya ijab-qabul, tidak ada kesan membatalkan akad dari penjual atau pembeli, serta keberlanjutan antara lafadz ijab dengan lafadz qabul sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat.

Berdasarkan pertimbangan di atas, Al-Ma’ma’ memutuskan,

Pertama, jika terjadi akad dua orang yang tidak saling ketemu di satu tempat, tidak saling melihat, tidak saling mendengar, sementara sarana komunikasi yang terjadi dalam bentuk tulisan, atau email, dan itu dilakukan melalui teleteks, faks, email, ym, dan semacamnya, bentuk akad semacam ini statusnya sah, selama ijab dan qabul antara penjual dan pembeli bisa tercapai.

Kedua, jika terjadi akad antara penjual dan pembeli dalam waktu bersamaan, sementara keduanya berada di daerah yang saling berjauhan, transaksi dilakukan melalui telepon, atau internet, maka akad semacam ini dihukumi sebagaimana akad dua orang yang saling bertemu. Sehingga dalam keadaan ini berlaku hukum asal transaksi sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama terkait syarat dalam akad, sebagaimana di sebutkan pada pengantar di atas.

Ketiga, jika terjadi masalah dengan sarana komunikasi yang digunakan, sehingga putus sambungan selama beberapa waktu tertentu, setelah penjual menyampaikan tawaran maka penjual tetap wajib melanjutkan tawaran ini setelah komunikasi bersambung kembali. Dan dia tidak memiliki hak untuk membatalkannya.

Keempat, bahwa transaksi jarak jauh semacam ini tidak berlaku untuk pernikahan, karena dipersyaratkan adanya saksi. Juga tidak boleh untuk transaksi mata uang atau jual beli emas, karena dipersyaratkan harus tunai di majlis akad. Demikian pula tidak berlaku untuk transaksi salam, karena uang pembelian harus dibayar di depan.

Kelima, terkait pemalsuan, penipuan, atau kesalahan apapun, semuanya dikembalikan pada moral pelaku.

Allahu a’lam

Sumber: http://islamtoday.net/bohooth/artshow-32-4720.htm

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

riba dan bahayanya

Riba dan Bahayanya

 

Pengertian Riba*

Dalam bahasa arab riba bermakna tambahan boleh jadi tambahan pada suatu benda semisal makna kata riba dalam QS alHajj:5 atau pun tambahan pada kompensasi dari benda tersebut semisal barter seribu rupiah dengan dua ribu rupiah.

Dalam syariat, riba bermakna tambahan atau penundaan tertentu yang dilarang oleh syariat.

Jadi riba itu memiliki beberapa bentuk, ada yang berupa penambahan yang dalam bahasa arab disebut fadhl dan ada yang berbentuk penundaan penyerahan barang tertentu yang dilarang oleh syariat yang dalam bahasa arab disebut nasiah. Ada juga riba nasiah dalam bentuk penambahan yang disyaratkan untuk mendapatkan penundaan pembayaran utang.

Komoditi Ribawi atau Benda Ribawi

Dalam hadits Nabi menyebutkan adanya enam benda ribawi. Enam benda ini bisa kita kategorikan menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama berisi emas dan perak. Kita analogkan dengan emas dan perak berbagai jenis mata uang semisal rupian, dollar dll.

Kelompok kedua terdiri dari gandum syair, gandum burr, korma dan garam. Dianalogkan dengan empat benda ini semua yang bisa dimakan dan diperjualbelikan dengan cara ditakar atau ditimbang.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ ».

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah bersabda, “Jika emas dibarter dengan emas, perak dibarter dengan perak, gandum burr dibarter dengan gandum burr, gandum syair dibarter dengan gandum syair, korma dibarter dengan korma, garam dibarter dengan garam maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya sesuka hati kalian asalkan tunai” [HR Muslim no 4147]

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلاً بِمِثْلٍ ». قَالَ وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيرَ.

Dari Ma’mar bin Abdullah, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Jika makanan dibarter dengan makanan maka takarannya harus sama”. Ma’mar mengatakan, “Makanan pokok kami di masa itu adalah gandum syair” [HR Tirmidzi no 4164].

عَنْ عُبَادَةَ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « مَا وُزِنَ مِثْلٌ بِمِثْلٍ إِذَا كَانَ نَوْعًا وَاحِدًا وَمَا كِيلَ فَمِثْلُ ذَلِكَ فَإِذَا اخْتَلَفَ النَّوْعَانِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ ».

Dari Ubadah dan Anas bin Malik, Nabi bersabda, “Benda yang ditimbang jika dibarter timbangannya harus sama apabila dibarter dengan benda yang sama. Benda yang ditakar ketentuannya sama seperti itu. Jika dua benda yang dibarterkan itu berbeda maka boleh takaran atau timbangannya berbeda” [HR Daruquthni no 2891].

Ada aturan untuk barter benda benda ribawi dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, jika bendanya sama missal kurma dengan kurma, beras dengan beras atau rupiah dengan rupiah maka agar transaksi barter ini diperbolehkan ada dua syarat yang harus dipenuhi pertama, takaran atau timbangannya harus sama meski kualitas dua benda tersebut berbeda kedua, harus tunai.

Yang dimaksud tunai di sini adalah kedua benda tersebut sudah diserahterimakan sebelum kedua orang yang mengadakan transaksi meninggalkan lokasi terjadinya transaksi.

Kedua, jika dua benda yang dibarterkan itu berbeda namun masih dalam satu kelompok semisal rupiah dengan dollar, emas dengan rupiah, atau beras dengan beras maka hanya ada satu syarat yang harus dipenuhi agar transaksi ini legal dan sah menurut syariat Islam yaitu tunai sebagaimana pengertian di atas.

Ketiga, jika dua benda yang dibarterkan itu berbeda kelompok semisal rupiah dengan beras, emas dengan daging sapi maka tidak ada persyaratan di atas. Artinya boleh beda takaran atau timbangan dan boleh tidak tunai.

Demikian pula halnya jika yang dipertukarkan bukanlah benda ribawi semisal motor dengan motor, HP dengan HP maka tidak ada persyaratan di atas untuk legal dan sahnya transaksi ini.

Jenis Riba

Riba itu bisa dijumpai dalam dua jenis transaksi, transaksi jual beli dan transaksi hutang piutang.

Riba dalam transaksi jual beli ada dua macam:

Pertama, riba fadhl [penambahan] semisal barter 10 Kg beras IR 64 dengan 5 Kg beras mentik wangi yang semuanya diserahkan di majelis akad [tempat terjadinya transaksi]

Kedua, riba nasiah [penundaan] semisal barter 5 Kg beras mentik wangi dengan 5Kg beras IR 64 namun salah satu dari keduanya ada yang diserahkan di luar majelis akad atau 1 dollar AS dengan 10 ribu rupiah namun salah satu dari rupiah atau dollar diserahkan di luar majelis transaksi.

Catatan:

Tidaklah termasuk riba nasiah manakala salah satu dari dua barang yang dipertukarkan adalah benda ribawi dan yang lain menjadi mata uang yang berlaku di masyarakat setempat

Riba dalam transaksi utang piutang juga terbagi menjadi dua jenis.

Pertama, riba jahiliah

Kedua, riba utang

عَنْ فَضَالَّةَ بْنِ عُبَيْدٍ صَاحِبِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوهِ الرِّبَا.

Fadhalah bin Ubaid mengatakan, “Semua transaksi utang piutang yang menghasilkan keuntungan adalah salah satu bentuk riba” [Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 11252].

Hukum Hadiah Dari Peminjam Uang

Hadiah yang diberikan oleh orang yang pinjam uang kepada orang yang meminjami atau menghutangi itu ada dua kategori.

Pertama, jika hadiah tersebut dipersyaratkan di awal atau di tengah tengah transaksi utang piutang maka hadiah tersebut adalah riba mengingat perkataan Fadhalah bin Ubaid di atas.

Kedua, hadiah tersebut tidaklah disyaratkan secara lisan atau pun secara urf [hukum tidak tertulis yang ada di masyarakat, pent], tidak pula diminta sehingga murni suka rela dari orang yang berhutang hukumnya perlu rincian.

Pertama, jika hadiah tersebut diberikan setelah pelunasan utang atau pada saat pelunasan hukumnya boleh

Kedua, jika hadiah tersebut diberikan sebelum pelunasan hukumnya haram karena tergolong riba dalam transaksi utang piutang kecuali jika sebelum terjadi transaksi utang piutang keduanya sudah terbiasa saling memberi hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah, “Sungguh anda berdomisili di daerah yang riba di sana tersebar luas. Diantara pintu riba adalah jika kita memberikan pinjaman uang kepadanya dengan jatuh tempo yang telah ditentukan jika jatuh tempo tiba orang yang berhutang membayarkan cicilan plus membawa satu keranjang berisi buah buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya” [Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 11245].

Bahaya Riba

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ (275)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]” (QS al Baqarah:275).

[175] Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.

وقال ابن عباس: آكل الربا يبعث يوم القيامة مجنونا يُخْنَق. رواه ابن أبي حاتم،

Ibnu Abbas mengatakan, “Orang yang memakan riba itu akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila tercekik”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim [Shahih Tafsir Ibnu Katsir karya Musthofa al Adawi 1/306]

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ (276)

“Allah itu menghapus riba dan mengembangkan sedekah” (QS al Baqarah:276).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang benar benar beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS al Baqarah:278-279).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ » .

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!”. Para shahabat bertanya,“Apa saja tujuh dosa itu wahai rasulullah?”.

Jawaban Nabi, “Menyekutukan Allah, sihir, menghabisi nyawa yang Allah haramkan tanpa alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, meninggalkan medan perang setelah perang berkecamuk dan menuduh berzina wanita baik baik” [HR Bukhari no 2766 dan Muslim no 272].

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Dari Jabir, Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama” [HR Muslim no 4177].

عن عبد الله : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الربا ثلاثة و سبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda, “Riba itu memiliki 73 pintu. Dosa riba yang paling ringan itu semisal dosa menyetubuhi ibu sendiri” [HR Hakim no 2259, shahih].

عَنْ كَعْبٍ قَالَ لأَنْ أَزْنِىَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِينَ زَنْيَةً أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ آكُلَ دِرْهَمَ رِباً يَعْلَمُ اللَّهُ أَنِّى أَكَلْتُهُ حِينَ أَكَلْتُهُ رِباً.

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح إلى كعب الأحبار

Dari Kaab bin al Ahbar, beliau mengatakan, “Sungguh jika aku berzina sebanyak 36 kali itu lebih kusukai dari pada aku memakan satu dirham riba yang Allah tahu bahwa aku memakannya dalam keadaan aku tahu bahwa itu riba” [Riwayat Ahmad no 22008, Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih sampai ke Kaab al Ahbar]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْظَلَةَ غَسِيلِ الْمَلاَئِكَةِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « دِرْهَمُ رِباً يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِينَ زَنْيَةً »

Dari Abdullah bin Hanzhalah, Rasulullah bersabda, “Satu dirham uang riba yang dinikmati seseorang dalam keadaan tahu bahwa itu riba dosanya lebih jelek dari pada berzina 36 kali” [HR Ahmad no 22007, dinilai shahih oleh al Albani di Silsilah Shahihah no 1033].

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنْ الرِّبَا إِلَّا كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

Dari Ibnu Mas’ud, Nabi bersabda, “Tidaklah seorang itu memperbanyak harta dari riba kecuali kondisi akhirnya adalah kekurangan” [HR Ibnu Majah no 2279, dinilai shahih oleh al Albani]

*Materi ini disampaikan pada kajian ilmiah Masjid Abu Bakar ash Shiddiq, Pisangan, Bontang Kalimantan Timur 28 April 2013

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

bolehkah modal usaha bagi hasil berupa barang?

 

 
Bolehkah Modal Mudharabah Berupa Barang?

 

Mudharobah yang disebut juga qiradh adalah kerja sama antara dua orang atau lebih. Satu pihak menyerahkan modal sedangkan pihak yang lain mencurahkan kesungguhannya untuk mengelola modal tersebut dengan pembagian keuntungan dengan model prosentase yang diketahui oleh kedua belah pihak.

Mudharabah adalah transaksi yang ada di masa Jahiliah  kemudian dibiarkan oleh Islam. Mudharabah adalah bentuk bisnis dan kerja sama yang sah tanpa ada perselisihan diantara para ulama tentangnya.

Ibnu Hazm az Zhahiri dalam Maratib al Ijma mengatakan, “Semua bab fikih itu memiliki dalil pokok dari al Quran dan sunnah kecuali bab mudharabah. Kami sama sekali tidak menjumpai dalil al Quran dan sunnah tentang disyariatkannya mudharabah. Dalil permasalahan ini adalah kesepakatan ulama tentang hal ini. Dengan ini bisa kita pastikan bahwa transaksi mudharabah itu ada di masa Nabi dan Nabi biarkan”.

Mayoritas ulama membolehkan modal mudharabah dalam bentuk mata uang. Namun mereka berselisih pendapat manakala modal mudharabah berupa barang dagangan. Ibnu Abi Laila membolehkan modal mudharabah tidak berupa mata uang. Inilah pendapat yang benar karena tidak ada dalil yang melarang modal mudharabah dalam bentuk selain uang. Sehingga tidak mengapa jika modal mudharabah dengan seratus lembar kain yang dijual oleh pengelola lalu keuntungan dibagi berdasarkan prosentase yang telah disepakati. Tidaklah diragukan bahwa pendapat Ibnu Abi Laila lah yang paling tepat karena tidak adanya dalil yang melarang.

Referensi: Al Munakhalah an Nuniyyah karya Murad Syukri hal 189.

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

 

prakatek bagi hasil (mudharobah) di masa sahabat

 
Praktek Mudharabah di Masa Sahabat

 

Praktek Mudharabah di Masa Sahabat

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ : خَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ وَعُبَيْدُ اللَّهِ ابْنَا عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِى جَيْشٍ إِلَى الْعِرَاقِ فَلَمَّا قَفَلاَ مَرَّا عَلَى أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ فَرَحَّبَ بِهِمَا وَسَهَّلَ وَهُوَ أَمِيرُ الْبَصْرَةِ فَقَالَ : لَوْ أَقْدِرُ لَكُمَا عَلَى أَمْرٍ أَنْفَعُكُمَا بِهِ لَفَعَلْتُ

Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bercerita, ada dua orang dari Khalifah Umar bin al Khattab yaitu Abdullah dan Ubaidillah berangkat bersama suatu rombongan pasukan ke Iraq. Tatkala keduanya hendak kembali ke Madinah, keduanya mampir di rumah Abu Musa al Asy'ari. Abu Musa pun menyambut dengan hangat. Abu Musa ketika itu adalah gubernur kota Bashrah. Dalam pertemuan tersebut, Abu Musa mengatakan, “Andai ada yang bisa kulakukan dan itu bermanfaat bagimu berdua tentu akan kulakukan”.

ثُمَّ قَالَ : بَلَى هَا هُنَا مَالٌ مِنْ مَالِ اللَّهِ أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَ بِهِ إِلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَأُسْلِفُكُمَاهُ فَتَبْتَاعَانِ بِهِ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الْعِرَاقِ فَتَبِيعَانَهُ بِالْمَدِينَةِ فَتُؤَدِّيَانِ رَأْسَ الْمَالِ إِلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ وَيَكُونُ لَكُمَا الرِّبْحُ

Sesaat kemudian Abu Musa berkata, “Oh ya, ada harta milik Negara yang ingin kukirimkan kepada Amirul Mukminin Umar. Uang tersebut kuserahkan kepada kalian berdua. Dengan uang tersebut kalian bisa kulakakan barang dagangan yang ada di Iraq lalu sesampainya di Madinah barang dagangan tersebut bisa kalian jual. Modalnya kalian serahkan kepada Amirul Mukminin Umar bin al Khattab sedangkan keuntungannya menjadi milikmu berdua”.

فَقَالاَ وَدِدْنَا فَفَعَلاَ

Respon keduanya, “Kami setuju”. Akhirnya mereka melaksanakan apa yang disarankan oleh Abu Musa.

فَكَتَبَ إِلَى عُمَرَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ يَأْخُذُ مِنْهُمَا الْمَالَ

Abu Musa juga berkirim surat kepada Umar agar beliau mengambil sejumlah uang dari kedua anaknya.

فَلَمَّا قَدِمَا الْمَدِينَةَ بَاعَا وَرَبِحَا فَلَمَّا رَفَعَا ذَلِكَ إِلَى عُمَرَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَكَلُّ الْجَيْشِ أَسْلَفَهُ كَمَا أَسْلَفَكُمَا؟ قَالاَ : لاَ.

Setelah tiba di Madinah, kedua putra Umar bin al Khattab menjual barang dagangan yang mereka bawa dari Bashrah dan keduanya pun mendapatkan keuntungan. Setelah keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan kepada Umar, beliau bertanya, “Apakah semua anggota pasukan mendapatkan pinjaman modal dari Abu Musa sebagaimana kalian berdua?” “Tidak”, jawab keduanya.

قَالَ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : ابْنَا أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينِ فَأَسْلَفَكُمَا أَدِّيَا الْمَالَ وَرِبْحَهُ فَأَمَّا عَبْدُ اللَّهِ فَسَلَّمَ وَأَمَّا عُبَيْدُ اللَّهِ فَقَالَ : لاَ يَنْبَغِى لَكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ هَذَا لَوْ هَلَكَ الْمَالُ أَوْ نَقَصَ لَضَمِنَّاهُ. قَالَ : أَدِّيَاهُ.

Karena kalian berdua adalah putra amirul mukminin Abu Musa member pinjaman modal. Serahkan modal dan keuntungannya kepada kas negara!”. Abdullah bin Umar pasrah dengan putusan ayahnya. Sedangkan Ubaidillah menyanggah dengan mengatakan, “Hal itu tidak disepatutnya Kau putuskan wahai amirul mukminin karena jika modalnya habis atau berkurang kamilah yang menanggungnya”. “Serahkan”, Umar bersikukuh dengan pendiriannya.

فَسَكَتَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَاجَعَهُ عُبَيْدُ اللَّهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ جُلَسَاءِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ :

Kembali Abdullah bin Umar hanya terdiam. Sedangkan Ubaidillah berkomentar menolak. Salah satu orang yang hadir ketika itu menyampaikan usulan,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ جَعَلْتَهُ قُرَاضًا

“Wahai Amirul Mukminin, andai kau jadikan transaksi yang telah terjadi sebagai mudharabah”

فَقَالَ : قَدْ جَعَلْتُهُ قُرَاضًا فَأَخَذَ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ الْمَالَ وَنِصْفَ رِبْحِهِ وَأَخَذَ عَبْدُ اللَّهِ وَعُبَيْدُ اللَّهِ نِصْفَ رِبْحِ الْمَالِ.

Umar pun setuju dengan mengatakan, “Telah kujadikan sebagai mudharabah”. Umar lantas mengambil pokok modal dan separo keuntungannya. Sedangkan Abdullah dan Ubaidillah mendapatkan separo keuntungan [Riwayat Baihaqi no 11939, dinilai shahih oleh al Albani].

Riwayat di atas menunjukkan bahwa mudharabah telah dikenal dan dipraktekkan oleh para shahabat.

Riwayat di atas juga menunjukkan bahwa pembagian keuntungan dalam mudharabah itu dengan prosentase semisal 50%:50% dan keuntungan itu dibagikan setelah modal dikembalikan.

Riwayat di atas juga menunjukkan bahwa harta negara yang disalahpergunakan dan merugi maka orang yang memegangnya berkewajiban untuk mengembalikan untuk kepada negara. Sedangkan jika menghasilkan keuntungan bahwa bisa disikapi sebagai transaksi mudharabah sehingga sebagian keuntungan untuk negara sedangkan sebagian yang lain untuk pelaku.