membagi kerugian dalam mudharobah

Membagi Kerugian dalam Mudharabah

 

Oleh Ust. Abu Ihsan Al-Atsari

Mudharabah adalah salah satu bentuk syarikah dalam jual beli. Islam telah menghalalkan sistem muamalah ini. Dan Islam telah melegalkan seluruh bentuk syarikah.

 

SYARIKAH ADA DUA JENIS

Pertama : Syarikah Amlaak

Yaitu penguasaan harta secara kolektif, berupa bangunan, barang bergerak atau barang berharga. Yaitu pensyarikahan dua orang atau lebih yang dimiliki melalui transaksi jual beli, hadiah, warisan atau yang lainnya. Dalam bentuk syarikah seperti ini kedua belah pihak tidak berhak mengusik bagian rekan kongsinya, ia tidak boleh menggunakannya tanpa seijin rekannya.

Kedua : Syarikah Uquud

Yaitu perkongsian dalam transaksi, misalnya, dalam transaksi jual beli atau lainnya. Bentuk syarikah seperti inilah yang hendak kami ulas dalam tulisan kali ini. Dalam syarikah seperti ini, pihak-pihak yang berkongsi berhak menggunakan barang syarikah dengan kuasa masing-masing. Dalam hal ini, seseorang bertindak sebagai pemilik barang, jika yang digunakan adalah miliknya. Dan sebagai wakil, jika barang yang dipergunakan adalah milik rekannya.

Syarikah Uquud ini, oleh para ahli fiqih dibagi menjadi lima bagian

[1]. Syariqah Inaan

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah dengan harta masing-masing untuk dikelola oleh mereka sendiri, dan keuntungan dibagi di antara mereka, atau salah seorang sebagai pengelola dan mendapat bagian lebih banyak dari keuntungan, daripada rekannya.

[2]. Syarikah Mudharabah

Yaitu, seseorang sebagai pemodal menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan, dan dia berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan.

[3]. Sayrikah Wujuuh

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah terhadap keuntungan dari barang dagangan yang mereka beli bersama tanpa modal. Pendapatan keuntungan dibagi atas dasar kesepakatan di antara mereka.

[4]. Syarikah Abdaan

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah pada harta halal hasil usaha mereka masing-masing. Atau bersyarikah pada harta yang mereka terima dari jasa tenaga atau keahlian mereka.

[5]. Syarikah Mufaawadhah

Yaitu masing-masing pihak menyerahakn kuasa penuh atas setiap transaksi materi maupun fisik, dalam bentuk jual beli dan dalam seluruh urusan mereka tanpa menggabungkan ke dalamnya keuntungan atau hutang-piutang yang bersifat pribadi. [1]

Dalam melakukan bentuk kerjasama ini, masing-masing harus menjaga sifat amanah. Apalagi terjadi kecurangan dan penipuan dari salah satu pihak, maka bentuk kerja sama ini batal dengan sendirinya. [2]

Pembahasan masalah syarikah ini sangat panjang. Namun dalam kesempatan kali ini, kita memfokuskan pembicaraan pada salah satu bentuk syarikah, yaitu syarikah mudharabah. Lebih khusus lagi, yakni berkaitan dengan masalah kerugian yang terjadi dalam syarikah mudharabah ini.

Masalah : Pihak pemodal menyerahkan uangnya kepada pihak pengelola, lalu terjadi kerugian dalam usaha tersebut sehingga menghabiskan uang milik pemodal. Maka siapakah yang menanggung kerugian tersebut? Apakah pihak pemodal atau pengelola atau keduanya?

Jawab : Ini adalah bentuk syarikah yang disebut mudharabah. Sebagian orang, yakni penduduk Hijaz menyebutnya qiraadh. Orang-orang umum menyebutnya dhimaar. Yaitu seseorang menyerahkan hartanya untuk dikelola oleh orang lain. Satu pihak disebut pemodal, dan pihak lain disebut pengelola

Kerugian dalam syarikah seperti ini disebut wadhii’ah. Kerugian ini mutlak menjadi tanggung jawab pemodal (pemilik harta), sama sekali bukan menjadi tanggungan pihak pengelola. Dengan catatan, pihak pengelola tidak melakukan kelalaian dan kesalahan prosedur dalam menjalankan usaha yang telah disepakati syarat-syaratnya. Kerugian pihak pengelola adalah dari sisi tenaga dan waktu yang telah dikeluarkannya tanpa mendapat keuntungan.

Pihak pemodal berhak mendapat keuntungan dari harta atau modal yang dikeluarkannya, dan pihak pengelola mendapat keuntungan dari tenaga dan waktu yang dikeluarkannya. Maka kerugian ditanggung pihak pemodal atau pemilik harta. Adapun pihak pengelola, ia mendapat kerugian dari jasa dan tenaga yang telah dikeluarkannya.

Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama, seperti yang telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (XXX/82).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab al-Mughni (V/183) mengatakan, "Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini".

Pada bagian lain (V/148), al-Maqdisi mengatakan, kerugian dalam syarikah mudharabah ditanggung secara khusus oleh pihak pemodal, bukan tanggungan pihak pengelola. Karena wadii’ah, hakikatnya adalah kekurangan pada modal. Dan ini, secara khusus menjadi urusan pemilik modal, bukan tanggungan pihak pengelola. Kekurangan tersebut adalah kekurangan pada hartanya, bukan harta orang lain. Kedua belah pihak bersyarikah dalam keuntungan yang diperoleh.

Seperti dalam kerja sama musaaqat dan muzaara’ah, dalam kerja sama ini, tuan tanah atau pemilik pohon bersyarikah dengan pihak pengelola atau pekerja dalam keuntungan yang dihasilkan dari kebun dan buah. Namun, jika terjadi kerusakan pada pohon atau jatuh musibah atas tanah tersebut, misalnya tenggelam atau musibah lainnya, maka pihak pengelola atau pekerja tidak menanggung kerugian sekalipun.

Masalah : Akan tetapi bagaimana hukumnya bila pihak pengelola dan pihak pemodal telah membuat syarat dan kesepakatan, bahwa kerugian yang diderita dibagi dua atau sepertiga ditanggung pihak pengelola, dan selebihnya pihak pemodal?

Jawab : Syarat dan kesepakatan seperti ini bertentangan dengan Kitabullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan.

"Artinya : Mengapa sejumlah orang mengajukan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitabullah? Barangsiapa mengajukan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah, maka tidak diterima, meskipun ia mengajukan seratus syarat". [3]

Ibnu Qudamah al-Maqdisi menegaskan batalnya syarat-syarat ini, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. [4] Ibnu Qudamah berkata, "Intinya, apabila disyaratkan atas pihak pengelola tanggung jawab terhadap kerugian atau mendapat bagian tanggungan dari wadhii’ah (kerugian), maka syarat itu bathil. Kami mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Barangkali para pemodal akan mengatakan : "Kalian para ulama telah membuka pintu seluas-luasnya bagi para pengelola untuk mempermainkan uang kami. Apabila kami menuntutnya, mereka mengatakan, ‘Kami mengalami kerugian".

Kalau pengelola tadi adalah orang yang lemah iman; lemah imannya kepada hari akhirat dan berani menjual agamanya dengan materi dunia, maka orang seperti inilah yang berani mempermainkan harta kaum muslimin, lalu mereka bersumpah telah mengalami kerugian. Kelonggaran ini bukanlah disebabkan fatwa dan pendapat ahli ilmu. Kewajiban atas pemilik harta adalah, mencari orang yang amanah agamanya dan ahli dalam pekerjaannya. Jika tidak menemukan orang seperti ini, maka hendaklah ia menahan hartanya. Adapun ia serahkan hartanya kepada orang yang tidak amanah dan tidak bisa mengelola lalu berkata, Ahli Ilmu telah membuka pintu bagi pengelola untuk mempermainkan harta kami, maka alasan seperti ini, sama sekali tidak bisa diterima.

Masalah : bolehkah pihak pengelola menanggung kerugian atas kerelaan darinya, tanpa paksaan?

Jawaban : Apabila pihak pengelola turut menanggung kerugan atas kerelaan darinya dan tanpa tekanan dari pihak manapun, maka hal itu dibolehkan, bahkan itu termasuk akhlak yang terpuji. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pada jual beli pertama mereka mendapat keuntungan, lalu pada jual beli kedua mereka mendapat kerugian, apakah keuntungan pada jual beli pertama dibagi dahulu, lalu kerugian pada jual beli kedua menjadi tanggungan pihak pengelola? Ataukah keuntungan itu dipakai untuk menutupi kerugian, lalu sisanya dibagi kemudian?

Jawab : Dalam kasus seperti ini, keuntungan harus digunakan lebih dulu untuk menutupi kerugian. Jika keuntungan tersebut masih tersisa setelah modal ditutupi, maka baru kemudian dibagi kepada pihak pengelola dan pihak pemodal menurut kesepakatan mereka. Demikian yang dijelaskan oleh para ulama.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (V/169) mengatakan :"Masalah, pihak pengelola tidak berhak mengambil keuntungan hingga ia menyerahkan modal kepada pihak pemodal. Apabila dalam usaha terjadi kerugian dan keuntungan, maka kerugian ditutupi dengan keuntungan. Baik kerugian dan keuntungan itu diperoleh dalam satu transaksi, ataupun kerugian terjadi pada transaksi pertama, lalu keuntungan dihasilkan pada transaksi berikutnya. Karena keuntungan itu hakikatnya adalah, sesuatu yang lebih dari modal dasar. Dan apabila tidak lebih, maka belum dihitung sebagai keuntungan. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan dalam masalah ini".

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnul Mundzir dalam kitab al-Ijma (halaman 112 nomor 534). Beliau rahimahullah berkata :"Para ulama sepakat, bahwa pembagian keuntungn (itu) dibolehkan, apabila pihak pemodal telah mengambil modalnya".

Hanya saja Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitab Maraatibul Ijma, halaman 93, baha para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun kesimpulanya, pendapat yang kuat adalah yang telah kita jelaskan diatas.

Apabila keuntungan telah dihitung dan dibagikan, dan masing-masing pihak telah mengambil bagian dari keuntungan, lalau setelah itu terjadi kerugian, maka dalam kasus ini, pihak pengelola tidak berhak memaksa pihak pemodal untuk menutupi kerugian dan keuntungan yang telah dibagikan, sudah menjadi, hak masing-masing. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pihak pengelola melanggar syarat atau melakukan kesalahan prosedur dalam usaha sehingga menyebabkan kerugian?

Jawab : Kerugian tersebut menjadi tanggungan pihak pengelola yang telah melanggar persyaratan yang telah disepakati, atau melakukan kelalaian, atau kesalahan prosedur. Sejumlah ahli ilmu telah menyebutkan kesepakatan ulama dalam masalah ini, di antaranya adalah Ibnu Hazm dalam kitab Maraatibul Ijma (hal. 93), dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma (hal.112 nomor 535). Namun Ibnu Abi Syaibah menukil dalam Mushannaf-nya (IV/402-403) dari Az-Zuhri rahimahullah, bahwa beliau menyelisihi ijma’ ini. Demikian pula atsar dari Thawus dan Al-Hasan.

Ibnu Qudamah mengatakan dalam Al-Mughni (VII/162) : "Apabila pihak pengelola melakukan pelanggaran prosedur, atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya, atau membeli sesuatu yang dilarang untuk dibeli, maka ia bertanggung jawab terhadap harta tersebut. Demikianlah menurut pendapat mayoritas ahli ilmu".

Namun pendapat yang kuat adalah, pihak pengelola bertanggung jawab atas kerugian tersebut, jika ia melanggar syarat. Karena seorang mukmin wajib memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Kaum muslimin harus menepati syarat-syarat yang telah mereka sepakati, kecuali syarat yang mehalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal",

Masalah : Namun, bagaimana jika pihak pengelola melanggar syarat, akan tetapi ia mendapat keuntungan?

Jawab : Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa keuntungan merupakan hak pemilik modal. Karena harta itu merupakan hartanya. Sebagian ahli ilmu lainnya berpendapat, bahwa keuntungan menjadi hak pengelola. Karena dialah yang bertanggung jawab apabila terjadi kerugian. Ada pula ulama yang berpendapat, bahwa keuntungan itu menjadi harta sedekah, diberikan kepada fakir miskin. Ada yang berpendapat, keuntungan diserahkan kepada pemodal. Adapun si pengelola berhak memperoleh uang jasa yang setimpal. Ada pula yang berpendapat, keuntungan tersebut dibagi menurut kesepakatan merka berdua.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagaimana tersebut di dalam Majmu Fatawa (XXX/86-87). Wallahu a’lam

Masalah : Bolehkah pihak pengelola mencampur modal tersebut dengan hartanya? Bagaimana bila itu terjadi ?

Jawab : Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni (VII/158) menjelaskan, pihak pengelola tidak boleh mencampur modal mudharabah dengan hartanya. Jika ia melakukan itu, lalu ia tidak bisa memilah mana hartanya dan mana modal mudharabah, maka ia menanggung kerugian yang mungkin terjadi karenanya. Karena ia yang diberi amanah, (dan) modal tersebut ibarat wadhi’ah (barang titipan)".

Masalah : Bagaimana bila masih bersisa dari harta mudharabah, bolehkah pihak pengelola mengambilnya?

Jawab : Apabila pihak pengelola mendapati di tangannya masih tersisa harta mudharabah, maka ia tidak boleh mengambilnya, kecuali dengan izin pihak pemodal.

Ibnu Qudamah mejelaskan dalam kitab Al-Mughni (VII/171). Intinya, apabila terlihat keuntungan pada harta mudharabah, maka pihak pengelola tidak boleh mengambilnya tanpa seizin pihak pemodal. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ulama dalam masalah ini. Pihak pengelola tidak berhak mengambilnya karena tiga alasan.

Pertama : Keuntungan digunakan untuk menutupi modal dasar, masih terbuka kemungkinan keuntungan tersebut dipakai untuk menutupi kerugian. Sehingga belum bisa disebut sebagai keuntungan.

Kedua : Pemilik modal –dalam hal ini- mitra bisnisnya, dia tidak boleh memotong haknya sebelum pembagian.

Ketiga : Kepemilikan atas keuntungan itu belum tetap, karena bisa saja keuntungan tersebut diambil kembali untuk menutupi kerugian. Namun, apabila pemilik modal mengizinkannya maka ia boleh mengambilnya.karena harta tersebut merupakan hak mereka berdua, dan tidak akan keluar dari hak keduanya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

_______

Maraji

[1]. Minhajus Salikin, SyaikhAbdurrahmanbin Nashir As-Sa’di

[2]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi

[3]. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam

[4]. Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani

[5]. Silsilah Al-Fatawa ASy-Syar’iyyah, Abul Hasan Al-Ma’ribi

[6]. Mausu’ah Manaahi Syar’iyyah, Syakh Salim bin Id Al-Hilali

 

hal hal yang di sepakati ulama dalam ijaroh /sewa

 
 
Yang Disepakati Ulama Dalam Transaksi Ijaroh

 

Hal Hal Yang Disepakati Ulama Dalam Ijaroh

الإجماع لابن المنذر (ص: 36)

كتاب الإيجارات وأجمعوا على أن الإجارة ثابتة وأجمعوا على إجازة أن يكري الرجل من الرجال دارا معلومة قد عرفاها وقتا معلوما بأجر معلوم

Para ulama menyepakati bolehnya menyewakan rumah yang telah diketahui kondisinya oleh penyewa dan yang menyewakan dalam rentang waktu tertentu dengan besarab upah yang jelas.

وأجمعوا على أن من اكترى دابة ليحمل عليها عشرة أقفزة قمح فحمل عليها ما اشترط فتلفت ألا شيء عليه

Para ulama juga sepakat bahwa siapa yang menyewa hewan pengangkut barang untuk mengangkut gandum dengan berat tertentu lalu hewan tersebut dibebani gandum sebagaimana yang disepakati lalu hewan tersebut mati karenanya maka penyewa tidak bertanggung jawab untuk mengganti hewan tersebut.

وأجمعوا على أن استئجار الظئر جائز وأجمعوا على أن طعامها وكسوتها ونفقتها ليس على المستأجر منه شيء

Ulama juga sepakat bahwa mempekerjakan wanita untuk menyusui bayi itu hukumnya boleh dan ulama sepakat bahwa kebutuhan pangan, sandang dan kebutuhan mendasar wanita tersebut bukanlah tanggung jawab penyewa sedikit pun.

وأجمعوا على أن من اشترط ذلك عليه إن كان معروفا أن ذلك جائز

Namun ulama juga sepakat bahwa jika ada kesepakatan bahwa hal hal di atas ditanggung oleh penyewa dengan nilai sepantasnya maka hal itu diperbolehkan.

وأجمعوا على أن للرجل أن يستأجر أمه أو أخته أو ابنته أو خالته لرضاع ولده

Ulama juga bersepakat bahwa boleh mempekerjakan ibu, saudari, anak dan bibi sendiri untuk menyusukan bayinya.

وأجمعوا على إجارة المنازل والدواب إذا بينا الوقت والأجر وكانا عالمين بالذي عقدا عليه الإجارة مبينا من سكنى الدار وركوب الدابة وما يحمل عليها

Para ulama juga sepakat bolehnya menyewakan rumah dan hewan tunggangan jika masa sewa dan besaran upahnya jelas dan keduanya mengetahui hal hal yang disepakati semisal menempati rumah, mengendarai hewan kendaraan atau mengangkut barang.

وأجمعوا على أن إجارة البسط والثياب جائزة

Para ulama juga bersepakat bolehnya persewaan karpet dan pakaian hukumnya diperbolehkan.

وأجمعوا على إجازة الرجل إذا اكترى رجلا بالنهار بأجر معلوم ومدة معلومة

Ulama juga bersepakat akan bolehnya mempekerjakan orang di waktu siang asalkan dengan upah yang jelas dan waktu kerja yang jelas.

وأجمعوا على استئجار الخيم والمحامل والعاريات بعد أن يكون المكترى من ذلك عينا قائمة قد رأياها جميعا مدة معلومة بأجر معلوم

Para ulama juga bersepakat bolehnya menyewakan tenda dan alat pengangkut barang setelah barang yang disewakan dilihat oleh penyewa dan yang menyewakan asalkan dalam jangka waktu sewa yang jelas dan dengan besaran upah yang jelas.

وأجمعوا على إبطال أجرة النائحة والمغنية

Para ulama fikih juga sepakat akan tidak sah alias batalnya transaksi mempekerjakan orang untuk menangisi dan meratapi orang yang meninggal dunia demikian pula batalnya transaksi 'mengundang' penyanyi atau musikus (sehingga upah yang didapatkan penyanyi adalah uang haram, pent) [al Ijma karya Ibnul Mundzir hal 36].

Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

 

kesepakatan ulama dalam jual beli

 
Kesepakatan Ulama Dalam Jual Beli

 

Pembaca pengusaha muslim Indonesia, dalam bisnis tidak serta merta hanya mendapat untung saja. Tapi sudah selayaknya seorang muslim mengetahui tentang hukum-hukum perdagangan yang sesuai Islam. Berikut ini kita akan mengupas artikel tentang perkataan ulama yang membuat kesepakatan haramnya jual beli bangkai

Kesepakatan Ulama Dalam Jual Beli

الإجماع لابن المنذر (ص: 30)

كتاب البيوع وأجمعوا على أن بيع الحر باطل

Para ulama bersepakat akan tidak sahnya memperjualbelikan orang merdeka [bukan budak].

وأجمعوا على تحريم بيع الميتة

Para ulama sepakat akan haramnya jual beli bangkai

وأجمعوا على أن بيع الخمر غير جائز

Mereka, para ulama, menyepakati bahwa memperdagangkan khamr adalah hal yang tidak diperbolehkan.

وأجمعوا على تحريم ما حرم الله من الميتة والدم والخنزير

Mereka, para ulama, bersepakat akan haramnya memperdagangkan bangkai, darah dan babi.

وأجمعوا على أن بيع الخنزير وشراءه حرام

Para ulama sepakat bahwa jual beli babi adalah haram.

وأجمعوا على فساد بيع حبل الحبلة وما في بطن الناقة وبيع المجر وهو بيع ما في بطون الإناث

Para ulama juga sepakat akan tidak sahnya jual beli habalul habalah [termasuk habalul habalah adalah jual beli kredit namun jatuh tempo pelunasannya tidak jelas, pent], jual beli janin onta dan jual beli janin semua hewan selain onta.

وأجمعوا على فساد بيع المضامين والملاقيح قال أبو عبيد هو ما في الأصلاب وما في البطون

Para ulama bersepakat akan tidak sahnya jual beli madhomin dan malaqih. Menurut Abu Ubaid yang dimaksudkan adalah jual beli calon janin baik yang masih berupa sperma atau zigot.

وأجمعوا على نهي النبي صلى الله عليه وسلم عن بيع السنبل حتى يبيض ويأمن من العاهة نهى البائع والمشتري وانفرد الشافعي ثم بلغه حديث ابن عمر فرجع عنه

Para ulama menyepakati larangan Nabi untuk menjual biji bijian yang masih ada di tangkainya sampai mengeras dan aman dari hama. Larangan tersebut berlaku untuk penjual dan pembeli. Imam Syafii menyendiri dengan membolehkannya kemudian sampai kepada beliau hadits yang diriwayatkan oleh Umar. Setelah itu beliau meralat pendapatnya.

وأجمعوا على أن بيع الثمار سنين لا يجوز

Para ulama bersepakat bahwa jual beli hasil pertanian selama beberapa tahun (tidak dalam bentuk transaksi salam, pent) itu tidak diperbolehkan.

وأجمعوا على النهي عن بيع المحاقلة والمزابنة وانفرد ابن عباس

Para ulama bersepakat akan terlarangnya jual beli muhaqolah dan muzabanah [jual beli aroya yang tidak memenuhi persyaratan,pent]. Hanya Ibnu Abbas yang membolehkannya.

وأجمعوا على بيع العرايا أنه جائز النعمان وأصحابه قالوا لا يجوز

Para ulama sepakat bahwa jual beli 'aroya [barter korma ruthob dengan korma kering dengan syarat syarat tertentu, pent] hukumnya boleh, hanya Abu Hanifah dan Hanafiyyah yang tidak membolehkannya.

وأجمعوا على أنه من باع نخلا لم يؤبر فثمرها للمشتري وانفرد ابن أبي ليلى فقال الثمر للمشتري وإن لم يشترط لأن ثمر النخل من النخل

Para ulama pakar fikih menyepakati bahwa siapa saja yang menjual pohon korma yang belum diserbuki maka buahnya adalah milik pembeli. Sedangkan Ibnu Abi Laila mengatakan bahwa buah kormanya adalah milik pembeli meski tanpa ada perjanjian di awal karena buah korma adalah bagian dari pohon korma.

وأجمعوا على أن من حلب المصراة فهو بالخيار إن شاء أمسكها وإن شاء ردها وصاعا من تمر وانفرد أبو يوسف وابن أبي ليلى فقالا يردها مع قيمة اللبن وشذ النعمان فقال ليس له ردها ولا يستطيع رد ما أخذ منها

Terkait hewan mushorroh [hewan perah yang tidak diperah selama beberapa hari baru dijual, pent], ulama fikih bersepakat bahwa tatkala pembeli sudah memerah susunya sehingga mengetahui kondisi asli hewan tersebut dia memiliki dua pilihan, menerima kondisi hewan tersebut atau memulangkan hewan tersebut kepada penjual plus satu sha’ [2,5 Kg] korma. Akan tetapi Abu Yusuf dan Ibnu Abi Laila menyendiri dengan mengatakan bahwa pilihan kedua adalah mengembalikan hewan tersebut plus uang senilai harga susu yang telah diperah. Abu Hanifah berpendapat nyleneh dengan mengatakan bahwa pembeli tidak boleh memulangkan hewan tersebut kepada penjual karena dia tidak bisa mengembalikan susu yang telah dia perah.

وأجمعوا على أن تلقي السلع خارجا لا يجوز وانفرد النعمان فقال لا أرى له بأسا

Ulama menyepakati bahwa menyambut pedagang yang membawa barang dagangan sebelum mereka tiba di pasar adalah perbuatan yang tidak boleh. Hanya Abu Hanifah yang bersendirian mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya adalah tidak mengapa. (Artinya melarang hal ini adalah pendapat mayoritas ulama, pent) [al Ijma karya Ibnul Mundzir hal 30]

Artikel PengusahaMuslim.com

 

 

Ulanglah Sejarahmu Wahai Pedagang Muslim !!!

 
 
Ulanglah Sejarahmu Wahai Pedagang Muslim !!!

 

Pendahuluan:

Alhamdulilah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Sejarah setiap umat dan bangsa adalah modal awal bagi terwujudnya pembangunan masa depan mereka yang cerah. Tatkala suatu bangsa telah melupakan sejarah masa lalu mereka, maka itu pertanda kehancuran mereka telah tiba saatnya. Ketahuilah bahwa pada sejarah setiap bangsa pasti menyimpan banyak pelajaran berharga, padahal sejarah tidak pernah lupa atau salah ingatan.

Wajar bila Allah Ta’ala memerintahkan anda untuk menimba pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului anda. Bagaimana mereka mencapai kejayaan dan mengapa kehancuran menimpa mereka.

(قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ)

“Sungguh telah berlalu sebelummu sunnah-sunnah (kebiasaan) Allah, maka berjalanlah engkau di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul.” Ali Imran 137.

Pedagang Mengislamkan Nusantara.

Saudaraku! Sudahkan anda menggali berbagai mutiara hikmah dari sejarah nenek moyang kita? Profesi dan status yang anda sandang saat ini tidak sepantasnya menghalangi anda dari menggali mutiara hikmah dari nenek moyang anda.

Nenek moyang kita konon begitu terkesan dan terpikat oleh akhlaq mulia para pedagang yang singgah di bumi nusantara ini. Begitu kuat simpati nenek moyang kita dengan akhlaq para pedagang muslim, sampai-sampai mereka berani dan rela meninggalkan agama yang mereka anut sedari dahulu kala. Dalam waktu yang relatif singkat, bangsa kita yang sebelumnya beragama Hindu dan Buda berubah menjadi beragama Islam.

Belumkah tiba saatnya anda bertanya: begitu hebatkah karismatik para pedagang itu, sehingga mereka berhasil mengislamkan bumi Nusantara? Metode apakah yang mereka gunakan sehingga berhasil menebarkan syari’at Allah, padahal sudah barang tentu mereka juga sibuk dengan perniagan mereka?

Sejarah masuknya agama Islam ke negri kita tercinta Indonesia sungguhlah unik dan menakjubkan.

Betapa tidak, kala itu masyarakat setempat beragamakan hindu dan budha dan di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan hindu dan budha pula. Walau demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakaan para penyebar syi’ar Islam. Dan yang menambah sejarah ini semakin unik ialah, nenek moyang kita dengan suka rela memeluk agama Islam tanpa paksaan dan iming-iming materi. Bahkan sebaliknya, dengan keputusan mereka untuk masuk Islam ini berarti mereka menyatakan siap menanggung segala resiko dan tantangan yang bakal mereka hadapi.

Anda bisa bayangkan, kira-kira bagaimana sikap para pendeta, biksu dan pemuka agama hindu dan buda tatkala mengetahui pilihan masyarakatnya? Bayangkan pula pula betapa besar kemurkaan raja-raja kala itu akibat dari sikap masyarakatnya yang berbondong-bondong masuk Islam dan meninggalkan agama rajanya.

Jadilah Pedagang Penyebar Islam.

Tindakan sering kali lebih cepat menyampaikan pesan dibanding seribu ucapan. Bahkan tindakan mampu memberikan kesan yang tidak mungkin ditumbuhkan oleh tutur kata. Ini membuktikan betapa pentingnya peranan teladan yang baik dalam kehidupan umat manusia secara umum dan umat muslim secara khusus begitu. Wajar bila Islam menekankan agar lisan anda selaras dengan tindakan anda, dan tentu tindakan anda selaras dengan iman yang tertanam kokoh dalam dada.

(يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ {2}كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ)

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau kerjakan. Sangat besar kebencian Allah bila engkau mengatakan suatu ucapan yang tidak engkau kerjakan.” As Shaf 2-3

Anda mengaku beriman kepada Allah, dan hari akhir, akan tetapi sudahkah tindakan anda mencerminkan akan keimanan tersebut? Anda percaya bahwa menepati janji, amanah, dan jujur adalah suatu kepastian dalam agama anda. Namun sudahkah itu semua tercermin dalam perilaku anda selama ini ?

Wajar bila Nabi ‘alaihissalam dalam banyak kesempatan menjadikan akhlaq mulia dan santun anda sebagai bukti iman anda.

(مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia tidak mengganggu tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menghormati tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia bertutur kata yang baik atau bila tidak kuasa, maka hendaknya ia berdiam diri.” Muttafaqun ‘alaih

Pada hadits lain beliau bersabda:

-فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ رواه مسلم

“Barang siapa mendambakan untuk dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia suka bila mereka memperlakukannya dengan cara itu.” Riwayat Muslim

Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melntasi para pedagang yang sedang berniaga. Tidak ingin kehilangan momentum bagus ini, maka beliau segera memanfaatkannya untuk menyampaikan etika pokok para pedagang muslim. Dengan suara yang lantang, beliau menegaskan kepada mereka:

(يا معشر التجار! فاستجابوا لرسول الله  ورفعوا أعناقهم وأبصارهم إليه، فقال: (إن التجار يبعثون يوم القيامة فجارا، إلا من اتقى الله وبر وصدق) رواه الترمذي وابن حبان والحاكم وصححه الألباني

"Wahai para pedagang! Spontan mereka menyimak apa yang akan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengangkat leher dan pandangan mereka kepada beliau. Lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya kelak pada hari qiyamat, para pedagang akan dibangkitkan sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa kepada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur." Riwayat At Timizy, Ibnu Hibban, Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Albany.

Untuk lebih menekankah pesannya ini, Nabi ‘alaihissalam mencontohkan dalam praktek nyata bagaimana seyogyanya para pedagang menjalankan perniagaannya:

عن عبد المجيد بن وهب قال: قال لي العداء بن خالد بن هوذة: ألا نقرئك كتابا كتبه لي رسول الله  ؟ قلت: بلى. فأخرج لي كتابا، فإذا فيه: (هذا ما اشترى العداء بن خالد بن هوذة من محمد رسول الله  اشترى منه عبدا أو أمة لا داء ولا غائلة ولا خبثة بيع المسلم للمسلم) رواه الترمذي وابن ماجة وحسنه الحافظ ابن حجر العسقلاني

"Abdul Majid bin Waheb, mengkisahkan, bahwa Al 'Addaa' bin Khalid bin Hauzah berkata kepadaku: Sudikah engkau aku bacakan kepadamu surat yang dituliskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untukku? Aku-pun menjawab: Tentu. Kemudian ia mengeluarkan secarik surat, dan ternyata isinya: "Inilah penjualan Al 'Addaa' bin Khalid bin Hauzah kepada Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia (Al 'Addaa') menjual kepadanya (Nabi ) seorang budak laki-laki atau budak perempuan. Budak yang tiada berpenyakit, berperangai buruk, tidak pula ada pengelabuhan, sebagaimana lazimnya penjualan seorang muslim kepada orang muslim lainnya." Riwayat At Tirmizi, Ibnu Majah, dan dinyatakan hasan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al 'Asqalany.

Menurut hemat anda, bila para pedagang muslim mematuhi petuah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, akankah ada orang yang tidak simpatik dengannya? Mungkinkah hati nurani para pelanggan tidak terpikat dengan tutur kata anda yang lembut, senyum anda yang mencerminkan ketulusan batin dan sikap anda yang jujur?

Pada kesempatan lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi contoh lain dari, beliau bersabda:

(رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى( رواه البخاري

"Semoga Allah senantiasa merahmati orang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, membeli dan ketika menagih." Riwayat Bukhari.

Saudaraku! Sebagai pedagang, apa perasaan anda tatkala memiliki pelanggan atau relasi yang berperangai sebagaimana di paparkan di atas? Mungkinkah anda kuasa untuk menahan badai simpati yang bergemuruh dalam hati anda? Kuasakah anda untuk tidak mendengarkan tutur katanya, bila ia sedang berbicara? Dan mungkinkah anda untuk tidak mempercayainya?
Wajar bila nenek moyang kita semua terpikat dan dengan suka rela meninggalkan agama nenek moyang mereka yang telah mereka anut berabad-abad lamanya. Dengan jiwa yang besar dan hati yang tulus, nenek moyang kita menerima agama yang disyi’arkan oleh para pedagang muslim kala itu. Semua itu berkat keluhuran budi pekerti dan ketulusan hati para pedagang muslim yang singgah di negri kita kala itu.

Fakta Pedagang Muslim Di Zaman Ini.

Pedagang muslim zaman dahulu telah berhasil menebarkan syi’ar Allah dan mengislamkan penduduk Nusantara. Nah bagaimana dengan pedagang muslim zaman sekarang? Saya yakin anda mengetahui bagaimana fakta pilu yang di jalani oleh banyak dari pedagang muslim. Segala cara mereka tempuh guna mengeruk keuntungan sesaat, walau harus mengorbankan akhiratnya.

Saudaraku! Belumkah tiba saatnya bagi anda untuk kembali membuktikan bahwa upaya mendapatkan keuntungan niaga tidaklah menghalangi anda untuk bisa berdakwah dan menebarkan syi’ar Allah. Tidakkah anda terpanggil untuk meneladani nenek moyang anda terdahulu yang telah berhasil mengislamkan penduduk nusantara?

Bila pedagang terdahulu berhasil mengislamkan orang hindu dan buda dengan melalui perniagan mereka, maka tidakkah anda kuasa “mengislamkan” orang Islam dengan perniagaan anda pula? Buktikan kepada dunia luas bahwa syari’at islam anda mampu menjadikan anda mengeruk keuntungan dan menjadikan bisnis anda lancar. Anda berbahagia dengan keuntungan anda dan masyarakatpun damai sejahtera dengan perniagaan anda.

Semoga paparkan singkat ini menggugah iman dan semangat anda untuk menyingsingkan baju dan membulatkan tekad untuk berniaga dapat memancarkan iman dan amal shaleh pada perniagaan anda.

Sumber: Majalah Cetak Pengusaha Muslim Indonesia

 

 

harta haram jangan dijadikan modal

 
 
Harta Haram Kok Dijadikan Modal Usaha

 

Waspada dan selektiflah dalam urusan harta benda. Janganlah ada harta haram yang mencampuri harta kekayaan kita. Terlebih harta yang kita investasikan sehingga terus berputar dan berkembang.

Memiliki usaha sukses, yang mendatangkan keuntungan melimpah, menjadi impian indah setiap insan. Memiliki usaha  yang sukses berarti meraih kemudahan memenuhi kebutuhan; kebutuhan sendiri dan kebutuhan keluarga. Karena itu, wajar bila ada anggapan: dengan fulus segalanya mulus. Alangkah indahnya slogan ini andai sesuai hukum-hukum syariat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tangan yang berada di atas lebih mulia dibanding tangan yang berada di bawah, dan hendaknya engkau mendahulukan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabmu. Dan sebaik-baik sedekah ialah yang engkau keluarkan di saat engkau berkecukupan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku, berupayalah sekuat tenaga untuk berada “di atas”, sehingga Anda selalu mengulurkan tangan untuk memberi, bukan meminta atau menerima dari orang lain. Dengan demikian kehidupan Anda semakin terasa berarti bagi semua orang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap orang Muslim wajib bersedekah. Salah seorang sahabat yang bertanya: bagaimana bila ia tidak memiliki apa-apa, Rasulullah menjawab: ‘Hendaknya ia bekerja, sehingga dari hasil kerja itu ia dapat mencukupi kebutuhan dirinya dan juga bersedekah.”( HR. Muslim)

Modal Halal, Kunci Sukses Usaha

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi sahabat Umar bin Al Khathab sejumlah uang. Namun karena sahabat Umar merasa telah berkecukupan, awalnya menolak. Beliau berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:  “Wahai Rasulullah! Alangkah baiknya bila engkau memberikan harta ini kepada orang yang lebih membutuhkannya dibanding aku.” Mendengar jawaban sahabat Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terimalah harta pemberianku ini, lalu manfaatkanlah harta pemberianku ini, atau sedekahkanlah kepada orang lain. Bila eng kau mendapat pemberian harta seperti ini, sedangkan engkau tidak mengharapkannya dan tidak pula memintanya, maka terimalah. Ada pun bila tidak diberi, maka seyogyanya ngkau tidak perlu berharap mendapatkannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, dalam urusan harta, sepantasnya setiap Muslim berperilaku terhormat. Harga diri seorang Muslim menghalanginya dari sifat rakus, hanyut dalam ambisi dan perilaku nista, yaitu dengan meminta-minta kepada orang lain.

Dikisahkan, sahabat Qabishah memikul beban utang yang cukup berat akibat mendamaikan dua orang yang bersengketa. Beliau menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamguna meminta bantuan menyelesaikan utangnya itu. Pendek kata, Nabi menjelaskan kepada sahabat Qabishah bahwa orang yang meminta-minta harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, hasil meminta-mintanya tidak berkah.

“Wahai Qabishah, segala bentuk memintaminta tanpa alasan yang dibenarkan maka itu adalah harta yang dihapuskan keberkahannya. Dan bila dibelanjakan oleh pemiliknya, maka harta itu tidak barokah.” (HR. Abu Dawud)

Penjelasan tentang status harta haram ini juga disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Hakim bin Hizam yang seorang saudagar kaya raya.

“Wahai Hakim, sejatinya harta ini terasa indah nan manis, Barangsiapa mendapatkannya dengan jiwa yang luhur niscaya hartanya diberkahi. Namun sebaliknya, orang yang mendapatkannya dengan penuh ambisi, niscaya hartanya itu tidak diberkahi. Gambarannya bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang.”  (Muttafaqun ‘alaih)

Modal Haram, Kunci Kebangkrutan

Allah Azza wa Jalla telah berjanji untuk memusnahkan harta riba, baik keberkahannya maupun fisik hartanya.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (QS. AlBaqarah: 276)

Dan bila Allah telah berjanji, Allah pasti memenuhi janji-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

“Sesungguhnya (harta) riba, walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit."(HR. Imam Ahmad, At Thabrany, dan AlHakim)

Imam Ma’mar mengisahkan, beliau mendengar dari pengalaman orangorang tua di zamannya bahwa para pelaku riba tidaklah bertahan selama 40 tahun, melainkan keberkahan hartanya telah dihapuskan. (Riwayat Imam Abdurrazzaq).

Penjelasan ini, walaupun secara khusus berkaitan dengan riba, namun juga dapat dijadikan cermin bagi harta haram lainnya. Terlebih Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Bisa jadi seseorang terhalang dari mendapatkan rezekinya akibat dari dosa yang ia lakukan.”(HR. hmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sahabat Abu Said mengisahkan, “Suatu hari aku kelaparan hingga aku mengikatkan batu ke perutku. Dan untuk mengatasi kemiskinan, istriku menyarankan agar aku meminta harta kepada Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengingat telah banyak orang yang meminta, dan beliau memberinya. Setibaku di rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mendapati beliau sedang berkhutbah dan bersabda,

“Barangsiapa berupaya menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah menjaga kehormatannya. Barangsiapa berlatih menjadi orang kaya, niscaya Allah menjadikannya orang kaya. Barangsiapa meminta kepadaku, pastilah aku beri jika aku memiliki harta. Namun orang yang lebih memilih menjaga kehormatannya dan berlatih sebagai orang kaya, maka itu lebih aku cintai dibanding yang meminta kepadaku.” Mendengar ucapan beliau ini, segera aku pulang, dan mengurungkan niat untuk meminta kepadanya. Tidak selang berapa lama, Allah Ta’ala melimpahkan kekayaan kepadaku, sampai-sampai aku tidak mengetahui ada satu keluarga Anshar yang lebih kaya dibanding aku. (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Al Ja’ad)

Karenanya, tiba saatnya bagi kita untuk waspada dan selektif dalam urusan harta benda. Janganlah ada harta haram yang mencampuri harta kekayaan kita. Terlebih harta yang kita investasikan sehingga terus berputar dan berkembang. Semoga Allah Ta’ala memudahkan dan melapangkan rezeki halal untuk kita.

Wallahu Ta’ala a’alam.

Sumber: Majalah Cetak Pengusaha Muslim Indonesia

 

 

jangan menganggur..bekerjalah…

 
Bekerjalah Wahai Pengangguran !!!

BEKERJALAH WAHAI PENGANGGURAN

Oleh: Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.[1]

Sungguh sangat disayangkan sekali, banyak pengangguran di negeri kita ini. Para pelajar yang belajar di berbagai jenjang pendidikan, ketika lulus dari sekolah atau tempat dia belajar justru bukan “melahirkan” para pekerja atau pengusaha, tetapi justru “melahirkan” para pengangguran. Bagusnya suatu sekolah atau kuliah, ternyata bukan menjadi jaminan para pelajar tersebut akan bisa bekerja, berketerampilan yang baik atau membuka peluang usaha.

Banyak lembaga pendidikan justru mengajarkan pelajarnya untuk menjadi buruh atau pegawai. Sehingga kita dapatkan para pelajar mengatakan bahwa kami sedang menganggur, ketika lulus dari sekolah atau kuliah, jika mereka tidak mendapatkan pekerjaan.

Padahal pekerjaan bukan hanya menjadi pegawai atau buruh. Pekerjaan yang halal sangat banyak sekali. Bahkan kalau kita perhatikan di masyarakat kita, yang bekerja sebagai pegawai hanya sebagian saja. Ada yang bekerja di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, transportasi, komunikasi, jasa dll.

Orientasi pendidikan yang salah di negara kita menjadikan para pelajar kita tergantung dengan orang lain, tidak mau berusaha dan tidak mau berinisiatif mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Dan yang sangat disayangkan mayoritas mereka adalah kaum muslimin.

Apakah Islam mengajarkan seperti itu? Tentu tidak.

Semangat ketergantungan kepada orang lain bukanlah suatu yang terpuji. Islam telah mengajarkan seluruh aspek kehidupan, termasuk permasalahan sosial seperti ini.

Anjuran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Agar semua Muslim Mau Berusaha

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan para sahabat untuk mau bekerja dan tidak berdiam diri di rumah atau tergantung dengan orang lain.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

((لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ، أَوْ يَمْنَعَه.))

“Seseorang di antara kalian mencari seikat kayu bakar yang dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, terkadang diberi, terkadang tidak.”[2]

Pada hadits ini Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim mau bekerja, meskipun pekerjaan tersebut sangat ringan atau tidak membutuhkan keterampilan khusus. Pekerjaan seperti ini sangat banyak di lingkungan kita, seperti: menjadi tukang angkat-angkat di pasar, menjadi tukang pemungut sampah, menjual telur atau makanan keliling dll.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berlindung dari sikap malas. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa:

(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.))

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, ketakutan, kepelitan, dililit hutang dan dikuasai oleh orang-orang.”[3]

Seluruh apa yang disebutkan dalam doa di atas adalah akibat dari kelemahan, kemalasan dan kurangnya rasa tawakkal kepada Allah.

Penyakit inilah yang banyak menjangkit di masyarakat kita. Kaum muslimin harus bangkit dari tidur dan kemalasannya.

Orang yang Kuat Berusaha Tidak Pantas untuk Meminta-minta

Orang yang kuat berusaha tidak sepantasnya menggantungkan dirinya kepada orang lain, kecuali jika benar-benar terpaksa atau benar-benar sangat membutuhkan, seperti: orang yang cacat total, sakit parah, tua renta, orang yang menanggung hutang orang lain, orang miskin yang tidak bisa mencukupi kebutuhan hariannya dll.

Oleh karena itu, disebutkan di dalam hadits berikut:

(( عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِىِّ بْنِ الْخِيَارِ قَالَ: أَخْبَرَنِى رَجُلاَنِ أَنَّهُمَا أَتَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقْسِمُ الصَّدَقَةَ فَسَأَلاَهُ مِنْهَا فَرَفَعَ فِينَا الْبَصَرَ وَخَفَضَهُ فَرَآنَا جَلْدَيْنِ فَقَالَ: (( إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِىٍّ وَلاَ لِقَوِىٍّ مُكْتَسِبٍ. ))

Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Adi bin Al-Khiyar, dia mengatakan bahwa ada dua orang mengabarkan kepadaku bahwa mereka dulu pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika haji wada’ dan beliau sedang membagi-bagikan sedekah. Kemudian dua orang tersebut memintanya agar mendapatkan sedekah. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke atas sampai ke bawah tubuh kami. Beliau melihat kami berdua sebagai orang yang kuat. Beliau pun mengatakan, “Jika kalian mau, saya akan memberikan kepada kalian berdua. Akan tetapi sedekah tidak diperuntukkan untuk orang yang kaya atau yang kuat untuk berusaha.”[4]

Pekerjaan yang halal sangat banyak sekali, meskipun hasilnya mungkin tidak begitu besar. Meskipun demikian penghasilan yang sedikit dan dapat menghidupi diri sendiri lebih baik daripada menjadi pengangguran dan tergantung dengan orang lain.

Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin bekerja. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka adalah pekerja yang banyak menguras keringat.

(( عن عَائِشَةُ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قالت: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ ، وَكَانَ يَكُونُ لَهُمْ أَرْوَاحٌ فَقِيلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ.))

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha, dulu sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah para pekerja untuk diri mereka sendiri. Dan dulu mereka memiliki bau (dari keringat mereka). Kemudian dikatakan kepada mereka, “Bagaimana jika kalian mandi?”[5]

Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang aktif bekerja.

Teladan yang Baik dalam Berusaha

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kehidupan Nabi Dawud ‘alaihissalam yang makan dari hasil usahanya sendiri:

(( عَنِ الْمِقْدَامِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنْ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ -عَلَيْهِ السَّلاَمُ- كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.))

Diriwayatkan dari Al-Miqdam radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada makanan yang dimakan oleh seseorang yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri. Dulu Nabi Dawud ‘alahissalam makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.”[6]

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan nama Nabi Dawud ‘alihissalam karena beliau adalah sosok yang terkenal dari banyak Nabi dan ternyata Nabi Dawud ‘alahissalam adalah seorang raja. Meskipun beliau menjadi seorang raja, beliau tetap tidak menggantungkan dirinya kepada rakyatnya. Beliau berusaha sendiri untuk mencari penghasilan yang dapat mencukupi hidupnya dan keluarganya.

Begitu pula dengan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّارًا.))

“Dulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.”[7]

Di dalam Shahih Al-Bukhari[8], ‘Aisyah radhiallahu 'anha menceritakan keadaan ayahnya setelah beliau diangkat menjadi khalifah, menggantikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

(( لَمَّا اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ قَالَ لَقَدْ عَلِمَ قَوْمِي أَنَّ حِرْفَتِي لَمْ تَكُنْ تَعْجِزُ عَنْ مَؤُونَةِ أَهْلِي وَشُغِلْتُ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَسَيَأْكُلُ آلُ أَبِي بَكْرٍ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَيَحْتَرِفُ لِلْمُسْلِمِينَ فِيه.))

“Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq diangkat menjadi khalifah, beliau berkata, ‘Kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku tidaklah mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan aku disibukkan dengan urusan-urusan kaum muslimin. Keluarga Abu Bakr akan makan dari harta ini (baitul-mal) dan kaum muslimin akan mendapatkan pekerjaan di dalamnya.’.”

Seandainya Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu mengambil bagian dari baitul-mal begitu saja, sesuai kebutuhannya maka tidak mengapa. Tetapi beliau berinisiatif untuk membuka lapangan pekerjaan untuk kaum muslimin dengan modal yang dikeluarkan dari baitul-mal. Atas apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq tentunya beliau pun berhak mendapatkan keuntungan dari apa yang telah diusahakannya itu. Ini semua dilakukan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq agar tidak tergantung dari pemberian kaum muslimin.

Menanam Modal Pada Anak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

((إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ.))

“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anaknya termasuk usahanya.”[9]

Oleh karena itu, orang tua juga diperkenankan menikmati hasil yang diperoleh dari anaknya, karena harta anak adalah harta orang tua. Dan bukanlah suatu yang tercela jika orang tua meminta harta anaknya, selama tidak menzalimi anaknya tersebut, tidak memberikan kepada anaknya yang lain dan tidak mengambilnya pada saat mendekati ajal anaknya atau ajal dirinya sendiri.

Dulu ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia berkata:

(يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ وَالِدِى يَجْتَاحُ مَالِى). قَالَ: (( أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ. ))

“Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya memiliki harta dan anak. Sesungguhnya orang tuaku banyak mengambil hartaku.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan hartamu adalah miliki orang tuamu. Sesungguhnya anak-anak kalian termasuk penghasilan kalian yang paling baik. Makanlah dari penghasilan anak-anak kalian.”[10]

Sehingga orang tua yang menginginkan anaknya memiliki penghasilan lebih darinya dapat menyekolahkannya/mengkursuskannya untuk mendapatkan suatu keahlian yang dapat digunakan untuk mencari pekerjaan. Setelah sang anak bekerja, dia bisa menikmati hasil yang telah dilakukannya itu.

Bekerjalah Wahai Pengangguran!

Sesungguhnya para sahabat di zaman dahulu menyibukkan dirinya dengan dua hal: yang pertama disibukkan dengan bekerja dan beribadah, dan yang kedua disibukkan dengan ibadah dan menuntut ilmu. Kedua kesibukan ini tidak tercela, karena kedua-duanya mengerjakan suatu yang bermanfaat untuk orang lain. Para sahabat sangat benci jika melihat seseorang yang kuat berusaha, tetapi tidak mau bekerja atau tidak mau menyibukkan dirinya dengan beribadah dan menuntut ilmu.

Sifat ketergantungan kepada orang lain harus segera disingkirkan. Termasuk di dalamnya ketergantungan kepada orang tua. Seorang anak yang sudah dewasa seharusnya memiliki rasa malu untuk meminta-minta kepada orang tuanya, meskipun orang tuanya mampu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِى أَمْرٍ لاَ بُدَّ مِنْهُ.))

“Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang seseorang mencakar sendiri wajahnya, kecuali seseorang yang meminta kepada pemimpin atau pada urusan yang harus untuk meminta.” [11]

(( مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.))

“Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia, sampai nanti di hari kiamat wajahnya tidak memiliki daging sedikit pun.”[12]

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kepada kita kekuatan untuk berusaha dan tidak bergantung kepada orang lain dan hanya bertawakkal kepadanya.

Mudahan bermanfaat. Amin.

Pengusahamuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. 081 326 333 328 dan 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Daftar Pustaka

  • Mir’atul-mafatih Syarh Misykatil-Mashabih . Muhammad ‘Abdussalam Al-Mubarakfuri.
  • Subulussalam. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Kairo: Darul-Hadits.
  • Syarh Riyadhishshalihin. Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Darussalam.
  • Umdatul-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari. Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi.
  • Buku-buku lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

Keterangan:

[1] (S-1) Alumni Universitas Islam Madinah, Hadits. (S-2) Mediu Malaysia, Fiqhussunnah. Kepala SDIT Al-Istiqomah Prabumulih.
[2] HR. Al-Bukhari no. 2074.
[3] HR. Al-Bukhari no. 2893.
[4] HR. Abu Dawud no. 1635 dan An-Nasai no. 2598. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (V/335) mengatakan, “Sanad-nya shahih sesuai syarat Al-Bukhari. Ibnu ‘Abdil-Hadi men-shahih-kannya dan Ahmad mengatakan jayyid (baik).”
[5] HR. Al-Bukhari no. 2071.
[6] HR. Al-Bukhari no. 2072.
[7] HR. Ahmad no. 7947 dan Ibnu Majah no. 2150. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4456.
[8] HR. Al-Bukhari no. 2070.
[9] HR. An-Nasai no. 4452, At-Tirmidzi no 1358 dan Ibnu Majah no. 2137. Di-shahih-kan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 1626.
[10] HR. Abu Dawud no. 3530 dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dan Ibnu Majah no. 2291 dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih.” Dalam Al-Irwa’ no. 838.
[11] HR. Abu Dawud no. 1639, An-Nasa-i no. 2600 dan dalam As-Sunan Al-Kubra (III/80) no. 2392, At-Tirmidzi no. 681. At-Tirimidzi dalam Sunan-nya beliau berkata, “Hasan Shahih.”, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1947 dan dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam catatan kakinya terhadap Musnad Ahmad.
[12] HR Al-Bukhari no 1474 dan Muslim no. 1040/2398.

 

 

 

Hukum Bisnis Online Afiliasi e-Book

 
Hukum Bisnis Online Afiliasi e-Book

 

Dalam bisnis afiliasi e-book terjadi praktek spekulasi tingkat tinggi. Mirip dengan bisnis MLM. E-book hanya komoditi untuk memutar kembali uang yang dibayarkan, dengan mencari downline pembeli sebanyak-banyaknya.

Sekarang, mendulang untung bukan hanya dilakukan para tuan tanah atau juragan besar pemilik gudang barang, perusahaan atau pusat perbelanjaan besar. Walau tidak memiliki gudang, toko atau perusahaan, dan bahkan bisa dilakukan di rumah, Anda pun dapat ikut mengeruk untung.

Salah satu metode yang digandrungi sebagian orang saat ini adalah dengan menjalankan bisnis afiliasi e-book. Bisnis ini mudah dilakukan, murah biayanya tapi menjanjikan untung lumayan melimpah. Berbekal kemampuan mendesain blog atau situs, agar dikunjungi oleh banyak orang, kemudian memasang link suatu situs, berupa banner atau lainnya. Bila mujur, banyak orang membeli e-book yang ditawarkan, dan Anda bisa meraup untung besar yang terus mengalir.

Alur Bisnis e-Book

Biasanya bisnis afiliasi e-book berawal dari Anda membeli sebuah e-book dari pemilik jaringan bisnis afiliasie-book dengan harga tertentu. Atas pembelian itu, Anda mendapatkan: (1) e-book tentang suatu hal bisnis atau lainnya; (2) Bonus e-book lain; dan (3) Hak afilisasi.

Dengan adanya hak afiliasi, secara otomatis Anda terdaftar sebagai downline dalam sistem bisnis afiliasi. Dan bila ada konsumen baru yang turut membeli e-book berdasarkan rekomendasi Anda melalui situs ataublog Anda, otomatis pula ia menjadi downline Anda. Konsekuensi status Anda sebagai seorang upline, Anda berhak mendapatkan fee dari setiap pembelian yang dilakukan oleh downline Anda. Dan downline Anda pun akan mengalami hal yang serupa dengan Anda, bila downline yang di bawahnya melakukan pembelian. Demikian seterusnya. Semua ini berjalan secara otomatis, mengingat pemilik afiliasi e-book telah membuat satu sistem yang dapat mengenali setiap pengunjung yang mampir di situsnya.

Hanya saja ada satu hal yang benar-benar menggiurkan pada sistem pembagian fee dalam sistem afiliasi e-book . Jika ada pengunjung baru yang membeli e-book berkat referensi Anda melalui situs, maka atas referensi ini mendapatkan fee sebesar 50% dari harga e-book. Dan semakin banyak pembeli baru yang berhasil Anda referensikan maka semakin banyak pula fee yang Anda dapatkan dari persenan penjualan e-book.

Besarnya fee yang didapatkan oleh anggota sistem afiliasi e-book ini menjadikan kebanyakan anggota tidak lagi mementingkan mutu dan kegunaan e-book yang mereka beli dan kemudian referensikan. Mereka lebih menginginkan hak afiliasinya yang begitu besar. Adapun e-book yang menjadi objek afiliasi hanya menjadi umpan bagi para calon konsumen atau anggota baru yang tertarik untuk mencari uang melalui dunia maya.

Hukum Afiliasi e-Book

Berdasarkan penjelasan ringkas tentang bisnis afiliasi e-book, dapat disimpulkan beberapa hal.

  • Afiliasi e-book adalah satu akad komersial yang terdiri dari akad jual-beli e-book, dan jual-beli jasa promosie-book.
  • Kegunaan e-book yang diperjualbelikan terbukti tidak sebesar nilai jualnya.
  • Adanya praktek spekulasi tingkat tinggi, sehingga anggota membayarkan uang dalam jumlah tertentu sejatinya bukan untuk mendapatkan barang, namun untuk mendapatkan hasil uang yang lebih dengan promosi e-book ke rekan yang lain.
  • Bila Anda menjadi anggota atau downline terakhir dapat dipastikan Anda menjadi korban yang paling dirugikan, mengingat Anda hanya mendapatkan e-book yang sering kali kurang berguna . Sedangkan impian atau janji manis mendapatkan fee dari pembelian downline tak ubahnya impian di siang bolong. Padahal Anda tergiur mengikuti sistem afiliasi e-book karena mengharapkan fee dari pembelian anggota di bawah Anda.

Bila Anda menelaah ketiga hal tersebut, niscaya Anda dapat menyimpulkan bahwa bisnis afiliasi e-bookdengan cara tersebut bertentangan dengan prinsip syariah dalam perniagaan. Anda pasti menyadari bahwa Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjaga harta yang merupakan karunia Allah dan membelanjakannya dengan cara-cara yang terukur.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan 67)

Sebagaimana Anda melihat dengan nyata bahwa konsumen afiliasi e-book dikorbankan, sehingga sebagian hartanya dipungut oleh pemilik bisnis afiliasi dengan cara-cara yang kurang terpuji. Betapa tidak. Pemilik bisnis afiliasi menjual e-book yang nilai dan kegunaannya kecil, namun ia memungut imbalan yang besar. Anda sebagai anggota afiliasi rela membeli e-book karena tergiur iming-iming fee besar dari menjual ulange-book. Andai menyadari bahwa Anda konsumen terakhir, niscaya Anda tidak rela menjadi anggota jaringan afiliasi. Praktek-praktek semacam ini tentu menyelisihi prinsip syariah.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu." (QS. An Nisa' 29)

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, sudah sepantasnya Anda mewaspai bisnis afiliasi semacam itu, dan tidak turut menjadi anggotanya agar tidak menjadi korbannya dan juga tidak turut menjerumuskan saudara Anda menjadi korbannya.

Saudaraku, semangat mendapatkan keuntungan dan memiliki mata pencaharian adalah terpuji. Walau demikian, bukan berarti Anda lupa daratan sehingga ceroboh dan menghalalkan segala macam cara. Dengan kesadaran ini, Anda akan bersikap proporsional. Bukan hanya keuntungan yang Anda kejar. Namun kehalalan dan juga nilai-nilai keberkahan. Semoga dapat menambah khasanah ilmu agama Anda. Semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki halal nan berkah untuk Anda. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab. (PM)

Oleh: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, MA (Pembina KPMI)

 

 

Cara Efektif Menangani Keluhan dan Menyenangkan Pelanggan

 
Cara Efektif Menangani Keluhan dan Menyenangkan Pelanggan

 

Studi terbaru menunjukkan alasan kedua yang paling sering diajukan pelanggan meninggalkan perusahaan karena perusahaan tidak menangani keluhan mereka dengan baik . 
 
Bagaimana Anda bisa mengubah keluhan pelanggan menjadi peluang bagi perusahaan ? Berikut beberapa tips:
 
1) Memperbaiki masalah dengan cepat. Terkadang bukan masalah jika Anda sampai pada akar mengapa masalah terjadi, terlebih jika menunda menyelesaikan masalah pelanggan. Temukan apa yang salah,  ralat, kemudian pahami apa yang terjadi. Pelanggan akan menghargai pendekatan pelanggan – terlebih dahulu.  
 
2) Minta maaf tanpa kualifikasi. Jangan pernah menggunakan “Saya minta maaf, tapi  …” seperti, “Saya minta maaf, tapi UPS yang merusaknya,” atau, maaf, tapi mungkin Anda tidak menggunakan suku cadang dengan tepat.” Kebanyakan pelanggan tidak peduli dengan pengerjaan internal yang menyebabkan kesalahan. Mereka ingin permintaan maaf dan solusi. Perusahaan Anda harus siap dengan kedua hal tersebut. 
 
3) Memberdayakan karyawan untuk memperbaiki masalah. Beberapa hal lebih menjengkelkan daripada ditahan saat seseorang mencari si supervisor, satu-satunya yang berwenang untuk memecahkan keluhan pelanggan. Perusahaan besar memberdayakan setiap orang yang berkaitan dengan pelanggan untuk memecahkan masalah.  
 
4) Produk kembali adalah bentuk keluhan diam-diam. Jika seorang pelanggan mengembalikan produk, ada yang tidak beres. Perusahaan harus tahu apa yang terjadi. Apakah mereka bingung apa yang dipesan? Apakah produk tersebut rusak? Apakah membutuhkan penggantian? Apakah produk lebih mahal dari yang mereka bayangkan? Apapun masalahnya, Anda bisa membantu memecahkannya hanya jika Anda tahu apa yang terjadi !
 
5) Mendorong keluhan.  Seringkali pelanggan yang tidak happy tidak memberitahu Anda. Mereka tidak ingin melukai perasaan Anda. Mereka merasa tidak ada hal baik yang didapat dari keluhan. Perusahaan Anda harus memperjelas bahwa Anda ingin mendengar saat pelanggan tidak happy. Pastikan semua orang mendengarkan bahkan kekecewaan sekecil apapun dari pelanggan Anda.  
 
6) Mengembangkan budaya “tanpa -kesalahan”  dalam perusahaan Anda. Karyawan Anda tidak ingin memecahkan masalah pelanggan jika mereka percaya seseorang akan dihukum karena membuat kesalahan. Alih-alih mengadopsi perilaku dimana terjadi kecelakaan, dan perusahaan lebih peduli dalam menyenangkan pelanggan daripada menghukum orang yang berasalah.  
 
7) Follow up! Mudah untuk memastikan pelanggan yang komplain sekarang sudah puas. Tapi sedikit perusahaan yang perlu waktu melakukannya. Sentuhan personal adalah yang terbaik: telepon, catatan tertulis akan menaikkan reputasi perusahaan Anda. Saya bukan penggemar pesan telepon yang direkam. Nampak dingin dan jauh bagi saya. Tapi semua itu terserah Anda.  
 
Memelihara pelanggan yang kesal bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi bisa jadi menguntungkan. Perusahaan yang menerapkan 7 tips ini akan menemukan bahwa keluhan terbesar bisa jadi penggemar mereka yang paling vokal! 
 
Penulis: Richard Jarman adalah seorang  business writer dengan spesialisasi marketing dan komunikasi.
 
Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com

 

 

tenaga kerja dan upah dalam islam

Tenaga Kerja dan Upah dalam Perspektif IslamOleh: Prof Muhammad  (Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta)

 

Islam member perspektif mengenai ketenagakerjaan, setidaknya ada empat prinsip untuk memuliakan hak-hak pekerja, termasuk sistem pengupahannya.

Tenaga kerja dan upahnya tidak dapat dipisahkan. Keduanya selalu menjadi tema menarik untuk dikaji. Bahkan demonstrasi buruh pun juga lebih banyak menyangkut tuntutan kenaikan upah. Kajian saya kali ini mengenai dua perkara yang penting ini. Penting karena kebijakan di bidang upah minimum menjadi bagian agenda reformasi ketenagakerjaan yang lebih luas. Kebijakan ini muncul setelah krisis ekonomi pada 1997/1998. Termasuk di Indonesia, melalui komitmen pemerintah terhadap masalah upah minimum tenaga kerja.

Menurut Chris Manning dari Australian National University, ada dua pendekatan yang dapat dijadikan pilihan bagi Indonesia dalam menentukan upah minimum. Yakni model kebijakan Amerika Latin dan model kebijakan Asia Timur. Nampaknya saat ini pemerintah menggunakan model Amerika Latin. Yakni dengan melindungi buruh di sektor modern, dengan perlindungan yang yang ekstensif atau luas.

Perlindungan yang “berlebih” dari model Asia Timur sebenarnya dapat menimbulkan masalah besar. Begitu juga model Amerika Latin yang merupakan kebalikan model Asia Timur yang kurang melindungi tenaga kerja. Dalam perjalanannya, penerapan model Asia Timur juga menghadapi masalah, karena setiap model pasti tidak luput dari kekurangan. Maka kini orang menengok Ekonomi Islam sebagai pembanding dan pengkoreksi kedua model tersebut.

Perbudakan vs Ketenagakerjaan

Dalam sejarahnya, penghapusan sistem perbudakan merupakan salah satu tujuan kehadiran Islam. Sejarah membuktikan, perbudakan langgeng dalam tata kehidupan masyarakat dunia jauh sebelum masa kenabian. Sistem perbudakan memperbolehkan keluarga atau seseorang memiliki budak sahaya yang bebas diperlakukan sesuai kemauan pemilik atau majikannya. Bahkan para majikan juga bebas memperjual-belikan budaknya kepada orang lain di pasar-pasar budak. Dalam sistem ini, hak-hak budak sebagai manusia mutlak di tangan majikan. Derajat kemanusiaan budak dipandang rendah dan hak-hak asasinya terabaikan. Jika ada yang ingin memerdekakan seorang budak, tidak ada cara lain kecuali dengan membelinya. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan sahabat Abu Bakar As-Siddiq ketika membebaskan Bilal bin Rabah dari tuannya.

Mengingat mapannya sistem perbudakan dalam tata kehidupan masyarakat waktu itu, Islam di awal kehadirannya tidak secara frontal melarang sistem tersebut. Islam berupaya menghapus sistem perbudakan yang telah mendarah daging dalam kebudayaan masyarakat melalui strategi gradasi pengikisan budaya. Contohnya adalah anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para pemilik budak memperhatikan kesejahteraan para budaknya dengan menyalurkan zakat kepada mereka. Artinya, pada periode awal Islam masih mentolerir perbudakaan namun mengkritik keras kekikiran konglomerat kaya yang tidak memperhatikan budak-budaknya. Baru ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan membangun peradaban maju di sana, upaya-upaya pembebasan dan penghapusan perbudakan secara masif dilakukan. Hasilnya, berkat perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terus dilanjutkan oleh umat Islam, sedikit demi sedikit tradisi perbudakan pun terhapuskan.

Meskipun pada hakikatnya Islam telah menghapus praktik perbudakan, namun dalam kenyataannya di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sendiri masih terjadi praktik perbudakan secara terang-terangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa umat Muslim harus terus berupaya menghapus perbudakan manusia. Perbudakan saat ini mungkin tidak sekejam perbudakan di masa lalu yang benar-benar tidak memanusiakan manusia. Perbudakan masa kini sebagian besar terjadi dalam bentuk sistem kerja yang tidak berkeadilan yang dialami pekerja rumah tangga migran Indonesia di luar negeri. Umat Muslim sebagai agen utama perbaikan peradaban manusia, sekali lagi, hendaknya terus berjuang agar sistem kerja yang tidak berkeadilan terhapus dari muka bumi, sehingga kaum pekerja mendapat jaminan kemerdekaan, derajat kemanusiaan, kesetaraan dan pengupahan yang layak. Jika saja keempat prinsip atau nilai pemuliaan pekerja tersebut terterapkan dalam dunia ketenagakerjaan secara global, kasus perdagangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi preseden buruk bagi pekerja migran Indonesia tidak akan terulang.

Empat Prinsip Ketenagakerjaan

Dari penghapusan perbudakan yang dikombinasikan dengan perpspektif Islam tentang ketenagakerjaan, maka dapat disebutkan setidaknya ada empat prinsip untuk memuliakan hak-hak pekerja. 

Pertama, kemerdekaan manusia.

Ajaran Islam yang direpresentasikan dengan aktivitas kesalehan sosial Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan tegas mendeklarasikan sikap antiperbudakan untuk membangun tata kehidupan masyarakat yang toleran dan berkeadilan. Islam tidak mentolerir sistem perbudakan dengan alasan apa pun. Terlebih lagi adanya praktik jual-beli pekerja dan pengabaian hak-haknya yang sangat tidak menghargai nilai kemanusiaan.

Penghapusan perbudakan menyiratkan pesan bahwa pada hakikatnya manusia ialah makhluk merdeka dan berhak menentukan kehidupannya sendiri tanpa kendali orang lain. Penghormatan atas independensi manusia, baik sebagai pekerja maupun berpredikat apa pun, menunjukkan bahwa ajaran Islam mengutuk keras praktik jual-beli tenaga kerja.

kedua, prinsip kemuliaan derajat manusia.

Islam menempatkan setiap manusia, apa pun jenis profesinya, dalam posisi yang mulia dan terhormat. Hal itu disebabkan Islam sangat mencintai umat Muslim yang gigih bekerja untuk kehidupannya. Allah menegaskan dalam QS. Al-Jumu’ah: 10, yang artinya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” Ayat ini diperkuat hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi: “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.

Kemuliaan orang yang bekerja terletak pada kontribusinya bagi kemudahan orang lain yang mendapat jasa atau tenaganya. Salah satu hadis yang populer untuk menegaskan hal ini adalah “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari beberapa dalil tersebut, dapat dipahami bahwa Islam sangat memuliakan nilai kemanusiaan setiap insan. Selain itu, tersirat dalam dalil-dalil tersebut bahwa Islam menganjurkan umat manusia agar menanggalkan segala bentuk stereotype atas berbagai profesi atau pekerjaan manusia. Kecenderungan manusia menghormati orang yang memiliki pekerjaan, yang menghasilkan banyak uang, serta meremehkan orang yang berprofesi rendahan. Padahal nasib setiap insan berbeda sesuai skenario dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sikap merendahkan orang lain karena memandang pekerjaannya sangat ditentang dalam Islam.

Ketiga, keadilan dan anti-diskriminasi.

Islam tidak mengenal sistem kelas atau kasta di masyarakat, begitu juga berlaku dalam memandang dunia ketenagakerjaan. Dalam sistem perbudakan, seorang pekerja  atau budak dipandang sebagai kelas kedua di bawah majikannya. Hal ini dilawan oleh Islam karena ajaran Islam menjamin setiap orang yang bekerja memiliki hak yang setara dengan orang lain, termasuk atasan atau pimpinannya. Bahkan hingga hal-hal kecil dan sepele, Islam mengajarkan umatnya agar selalu menghargai orang yang bekerja.

Misalnya dalam hal pemanggilan atau penyebutan, Islam melarang manusia memanggil pekerjanya dengan panggilan yang tidak baik atau merendahkan. Sebaliknya, Islam menganjurkan pemanggilan kepada orang yang bekerja dengan kata-kata yang baik seperti “Wahai pemudaku” untuk laki-laki atau “Wahai pemudiku” untuk perempuan.

Dalam sejarahnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memiliki budak dan pembantu. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan para budak dan pembantunya dengan adil dan penuh penghormatan. Beliau pernah mempunyai pembantu seorang Yahudi yang melayani keperluan beliau, namun beliau tidak pernah memaksakan agama kepadanya. Isteri beliau, Aisyah Radhiyallahu anha, juga memiliki pembantu yang bernama Barirah yang diperlakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan isterinya dengan lemah lembut dan tanpa kekerasan.

Keempat, kelayakan upah pekerja.

Upah atau gaji adalah hak pemenuhan ekonomi bagi pekerja yang menjadi kewajiban dan tidak boleh diabaikan oleh para majikan atau pihak yang mempekerjakan. Sebegitu pentingnya masalah upah pekerja ini, Islam memberi pedoman kepada para pihak yang mempekerjakan orang lain bahwa prinsip pemberian upah harus mencakup dua hal, yaitu adil dan mencukupi.

Prinsip tersebut terangkum dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.”

Seorang pekerja berhak menerima upahnya ketika sudah mengerjakan tugas-tugasnya, maka jika terjadi penunggakan gaji pekerja, hal tersebut selain melanggar kontrak kerja juga bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Selain ketepatan pengupahan, keadilan juga dilihat dari proporsionalnya tingkat pekerjaan dengan jumlah upah yang diterimanya.

Di masa sekarang, proporsioanlitas tersebut terbahasakan dengan sistem UMR (Upah Minimum Regional). Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan agar pihak yang mempekerjakan orang lain mengindahkan akad atau kesepakatan mengenai sistem kerja dan sistem pengupahan, antara majikan dengan pekerja. Jika adil dimaknai sebagai kejelasan serta proporsionalitas, maka kelayakan berbicara besaran upah yang diterima haruslah cukup dari segi kebutuhan pokok manusia, yaitu pangan, sandang serta papan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempertegas pentingnya kelayakan upah dalam sebuah hadis: “Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu, sehingga barangsiapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri), dan tidak membebankan pada mereka tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

Sistem Pengupahan

Upah disebut juga ujrah dalam Islam. Upah adalah bentuk kompensasi atas jasa yang telah diberikan tenaga kerja. Untuk mengetahui definisi upah versi Islam secara menyeluruh, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu Surat At-Taubah: 105, yang artinya: “Dan katakanlah:  Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” dan Surat An-Nahl: 97, yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal soaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Quraish Shihab dalam bukunya, Tafsir Al Misbah menjelaskan, QS. At Taubah:105  sebagai berikut: “Bekerjalah kamu demi karena Allah semata dengan aneka amal yang sholeh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk masyarakat umum, Allah akan melihat yakni menilai dan memberi ganjaran amal kamu itu.” Ganjaran yang dimaksud adalah upah atau kompensasi.

Demikian juga dengan QS. An-Nahl: 97, maksud dari kata “balasan” dalam ayat tersebut adalah upah atau kompensasi. Jadi dalam Islam, jika seseorang mengerjakan pekerjaan dengan niat karena Allah (amal sholeh), maka ia akan mendapatkan balasan, baik didunia (berupa upah) maupun di akhirat (berupa pahala), yang berlipat ganda. Dari dua ayat terebut dapat kita simpulkan, upah dalam konsep Islam memiliki dua aspek, yaitu dunia dan akhirat.

Proses penentuan upah yang islami berasal dari dua faktor: objektif dan subjektif. Objektif adalah upah ditentukan melalui pertimbangan tingkat upah di pasar tenaga kerja. Sedangkan subjektif, upah ditentukan melalui pertimbangan-pertimbangan sosial. Maksud pertimbangan-pertimbangan sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan tenaga kerja. Selama ini ekonomi konvensional berpendapat, upah ditentukan melalui pertimbangan tingkat upah di pasar tenaga kerja. Namun ada sisi kemanusiaan yang harus diperhatikan pula. Misal, tata cara pembayaran upah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: ‘Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani)

Dari  hadis tersebut dapat disimpulkan, Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Berbeda dengan konvensional yang hanya memandang manusia sebagai barang modal. Manusia tidak boleh diperlakukan seperti halnya  barang modal, misalnya mesin.

Sadeeq (1992) menyebutkan beberapa ketentuan yang akan menjamin diperlakukannya tenaga kerja secara manusiawi. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah: (1) Hubungan antara majikan (musta’jir) dan buruh (ajir) adalah man to man brotherly relationship, yaitu hubungan persaudaraan. (2) Beban kerja dan lingkungan yang melingkupinya harus memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti yang telah diutarakan, manusia tidak sama dengan barang modal. Manusia membutuhkan waktu untuk istirahat, sosialisasi, dan yang terpenting adalah waktu untuk ibadah. (3) Tingkat upah minimum harus mencukupi bagi pemenuhan kebutuhan dasar dari para tenaga kerja.

Implementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam penentuan upah yang islami dapat berasal dari dua sumber. Yakni (1) Musta’jir, dan (2) Pemerintah. Musta’jir yang beriman akan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam penentuan upah bagi ajirnya. Termasuk dalam nilai kemanusiaan adalah unsur adil.

Maksud adil dapat kita lihat dari pandangan Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Ia menjelaskan, “Sesungguhnya seorang pekerja hanya berhak atas upahnya jika ia telah menunaikan pekerjaannya dengan semestinya dan sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat dengan syarat-syarat antar-mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Namun jika ia membolos bekerja tanpa alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak semestinya, sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya (dipotong upahnya), karena setiap hak diiringi kewajiban. Selama ia mendapatkan upah secara penuh, kewajibannya juga harus dipenuhi. Sepatutnya hal ini dijelaskan secara detail dalam ‘peraturan kerja’ yang menjelaskan masing-masing hak dan kewajiban kedua belah pihak.”

Jadi, maksud adil adalah harus ada kejelasan atau aqad (perjanjian) antara musta’jir dan ajir. Seorangmusta’jir harus adil dan tegas dalam proses penentuan upah. Hak (upah) seorang ajir akan diberikan jika ia telah mengerjakan kewajibannya (pekerjaannya) terlebih dahulu. Dalam implementasi nilai-nilai keadilan, pemerintah bertugas melakukan intervensi dalam penentuan upah. Intervensi pemerintah dilandasi oleh dua hal. Yakni (1) Adanya kewajiban untuk mengawasi, menjaga, dan mengoreksi implementasi nilai-nilai keIslaman kehidupan rakyatnya, termasuk didalamnya kebijakan mengenai upah; (2) Adanya kewajiban pemerintah untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan rakyatnya, dalam hal ini baik musta’jir maupun ajir.

Dalam Islam, intervensi pasar sebenarnya sifatnya hanya temporer. Pemerintah akan melakukan intervensi jika  pasar terdistorsi sehingga akhirnya upah yang dihasilkan bukanlah upah yang adil.

Jadi dapat disimpulkan dari keseluruhan penjelasan diatas mengenai upah menurut prinsip Islam adalah, dalam penentuan upah, Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dari tenaga kerja. Selama ini hak-hak tenaga kerja selalu dipinggirkan. Model Asia Timur misalnya, tenaga kerja tidak dilindungi hak-haknya. Upah yang mereka terima rendah, tidak cukup untuk menghidupi mereka dan keluarganya. Hal ini sangat bertentangan dengan pandangan Islam, karena syarat upah dalam Islam adalah adil. Adil itu tidak hanya dilihat dari sisi tenaga kerja (ajir), tetapi juga dari sisi majikan (musta’jir). Oleh sebab itu Islam tidak membenarkan penetapan upah yang hanya memperhatikan tenaga kerja, yaitu bertujuan hanya untuk mensejahterakan tenaga kerja semata. Di sisi lain pihak produsen atau majikan juga diperhatikan kesejahteraannya.

Ada alternatif yang ditawarkan oleh Islam, jika penentuan upah melalui mekanisme pasar dan kebijakan upah minimum pemerintah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada dua alternatif yang ditawarkan. Yakni: (1) Memberikan subsidi kepada pihak produsen. Subsidi tersebut diberikan agar produsen tetap dapat memberikan upah yang layak kepada tenaga kerja. (2) Memberikan subsidi kepada pihak tenaga kerja. Subsidi ini lebih tepatnya disebut dengan jaminan sosial. Jadi tenaga kerja tetap mendapat tingkat upah pasar, namun mereka juga mendapat jaminan sosial sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka.

Dalam langkahnya pemerintah dapat menggunakan dana baitul maal (keuangan negara). Contoh dari subsidi dapat dari, misalnya, masa  pemerintahan Umar, subsidi itu diberikan dalam bentuk: (1) Ransum atau jatah tetap setiap orang; dan (2) Subsidi tahunan tunai yang bersifat tetap bagi mereka yang ikut berjihad.

Upah atau Gaji Minimum

Karena fluktuasi harga kebutuhan pokok (inflasi dan deflasi), batas upah minimum pun hendaknya disesuaikan dengan laju inflasi riil. Sistem upah minimum terkait tingkat inflasi saat ini telah dilakukan di negara kita. Untuk konteks Indonesia saat ini, dalam menentukan upah minimum provinsi, terdapat beberapa unsur yang dipertimbangkan. Unsur-unsur tersebut mencakup pangan, sandang, dan papan dll (ada 43 butir seperti tertera dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 889 HK. 01.32.2002 tertanggal 10 September 2002). Kebutuhan yang dihitung dalam surat edaran ini adalah kebutuhan seorang pekerja (lajang).

Jika kebutuhannya sewa rumah, pekerja tidak akan pernah memiliki rumah sampai kapan pun. Hal ini tentu melanggar aturan hadis yang diriwayatkan oleh Mustawrid bin Syadad: “Aku mendengar Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapayang menjadi pekerja bagi kita, hendaklah ia mencarikan isteri (untuknya); seorang pembantu bila tidak memilikinya, hendaklah ia mencarikannya untuk pembantunya. Bila ia tidak mempunyai tempat tinggal, hendaklah ia mencarikan tempat tinggal.”Abu Bakar mengatakan, “Diberitakan kepadaku bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, ‘Siapa yang mengambil sikap selain itu, maka ia adalah seorang yang keterlaluan atau pencuri.(HR. Abu Daud).

Memang arti "mencarikan" bisa bermacam-macam. Bisa menyewakan rumah untuk pekerja agar bisa tinggal di dalamnya. Bisa juga membelikan rumah untuk ditempati pekerja. Atau bisa juga menyediakan rumah gratis (semacam rumah dinas) bagi pekerja. Dalam praktiknya di Indonesia, bagi karyawan rendahan disediakan tempat tinggal gratis. Bentuknya bisa rumah sederhana bagi pegawai perkebunan, bisa asrama bagi anggota TNI dan polisi. Untuk karyawan yang sudah tinggi, disediakan rumah dinas bagi pejabat di departemen dengan pangkat eselon 2 ke atas, dan sebagainya.

Menurut saya, arti "mencarikan" adalah memberikan rumah kepada pekerja agar dapat ditempati selama-lamanya. Jika tidak, selamanya pekerja akan menyewa rumah dan tidak akan pernah memiliki rumah. Untuk kondisi saat ini, cara yang paling murah melalui cicilan rumah. Tentunya hal ini tidak dapat diberikan pada semua karyawan, tetapi paling tidak bagi pegawai yang sudah bekerja sekurang-kurangnya lima tahun, dengan alasan bahwa mereka telah setia kepada perusahaan.

Oleh karena itu, harus ada instrumen yang mengatur tentang pengupahan dalam bentuk Buku Pedoman Pengupahan Pegawai Perusahaan. Dalam aturan itu dicantumkan bagi karyawan yang telah bekerja selama lima tahun disediakan bantuan rumah dalam bentuk cicilan. Berkaitan dengan itu, juga diusulkan agar butir kebutuhan "sewa rumah" pada poin 12, digantikan dengan "cicilan rumah", khusus bagi karyawan yang telah bekerja > lima tahun. Besarnya selisih antara sewa rumah dengan cicilan rumah juga tidak terlalu besar. Diharapkan dengan konsep ini, para pekerja akan lebih bergiat lagi dan dapat meningkatkan produktivitas.

Kesehatan karyawan juga merupakan hal yang sangat penting, sebagai kesehatan karyawan adalah modal usahanya. Setiap pekerjaan (usaha) membutuhkan persiapan badan dan jiwa yang baik.Berusaha adalah sebuah keharusan bahkan keharusan bagi kehidupan. Oleh karena itu, kesehatan menjadi wajib. Memenuhi kebutuhan primer (dhoruri) bagi manusia yaitu makan dan minumnya (pangan) adalah wajib juga maka karyawan tidak akan bisa bekerja dan bisa memenuhi kebutuhannya kecuali kalau dia mempunyai kekuatan badan untuk menghasilkan semua. Kekuatan badan di sini berarti kesehatan. Oleh karena itu, memperhatikan karyawan dari segi kesehatan wajib hukumnya dalam Islam.

Gaji Minimum ≥ Nishob Zakat

Dalam praktiknya, meski upah minimum telah dihitung teliti dengan melibatkan pangan, sandang, dan papan seperti surat edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 889 HK. 01.32.2002, masih saja gaji minimum itu tidak mencukupi kebutuhan dasar karyawan, khususnya di negara-negara berkembang. Upah Minimum Provinsi (UMP) OKI Jakarta 2000 sebesar Rp 972.604,00 per bulan (atau setara 71 euro), naik 8% dari UMP 2007 sebesar Rp 900.560,00. Bandingkan dengan gaji di Eropa 2004: Belgia 1.210 euro, Perancis 1.280 euro, dan Belanda 1.264 euro. Upah minimum di tiga negara ini pada 2004 sebesar 17 kali lebih dari upah minimum di Jakarta pada 2008.

Sadeq (1989) merekomendasikan, jika upah minimum tidak cukup, para karyawan harus diberi zakat. Kami setuju dengan pendapat ini dan memang demikianlah adanya. Jika gaji karyawan tidak mencukupi kebutuhannya, karyawan dikategorikan sebagai orang miskin dan berhak atas dana zakat. Namun harus ada mekanisme yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan karyawan. Secara garis besar, harus ada ukuran berapa gaji minimum yang diberikan kepada karyawan.

Menurut hemat kami, konsep upah minimum harus diperbaiki dengan cara mengenalkan konsep nishobzakat sebagai upah minimum. Artinya, jika nishob zakat disesualkan dengan harga 85 gram emas dalam setahun, dalam sebulan, batas gaji minimum sebesar 85/12 = 7,083 gram emas. Jika harga rata-rata satu gram emas selama 2007 sebesar Rp 198.800, maka upah atau gaji minimum 2008 sebesar 7,083 x Rp 198.800,00 = Rp 1.408.100,00. Dengan asumsi kondisi harga emas stabil.

Dalam hal kondisi harga emas sangat berfluktuasi, penyesuaian upah minimum dapat dilakukan dua kali dalam setahun seperti yang sekarang diberlakukan di negara dan Spanyol. Di dua Negara ini,  penyesuaian upah minimum dilakukan satu kali atau dua kali setahun, tergantung situasi ekonomi negara tersebut. Bahkan Yunani memberlakukan penyesuaian upah minimum dua kali dalam setahun secara reguler.

Pertanyaannya, dari mana uang untuk membayar upah minimum yang disesuaikan dengan nishob zakat? Bukankah pengusaha akan menolak kalau aturan ini diberlakukan?

Sebenarnya, upah minimum dengan acuan nishob zakat ini bisa saja diterapkan, asalkan biaya produksi dapat ditekan. Menurut penelitian, rata-rata 40% dari rata-rata harga pokok penjualan produk adalah, bunga bank dan pungutan liar. Seperti yang dilaporkan Agnes Swetta Pandia (Kompas, 22 Oktober 2004), "Dunia usaha tetap akan berdalih ekonomi sulit yang disebabkan oleh tingginya ongkos ekonomi karena banyak pungutan baik legal maupun liar." Jika pungutan liar dapat ditekan sehingga bunga bank mengambil 30% dari harga pokok penjualan, yang 10% lagi (penghematan akibat dihapuskannya pungutan liar) dapat diberikan kepada karyawan.

Proporsi biaya tenagakerja adalah rata-rata 8% dari biaya produksi. Jika tidak ada pungutan liar, total biaya karyawan sebesar 18% dari biaya produksi (10% penghematan + 8% biaya tenaga kerja saat ini). Biaya tenaga kerja di luar negeri berkisar 12-15% dari biaya produksi. Jika penghematan ini terjadi karena dihapuskannya pungutan liar, tidak ada kesulitan untuk menerapkan nishob zakat sebagai upah atau gaji minimum. Angka 18% adalah lebih dua kali lipat dari angka 8%. Artinya, jika pungutan liar dihapuskan, dua kali lipat pun dari upah atau gaji sekarang, perusahaan mampu membayarnya.

Jika dilihat secara kasat mata, tenaga kerja di negara-negara berkembang, sangat memerlukan kepastian akan perlindungan hak-haknya. Indonesia misalnya, mengadopsi dua model kebijakan mengenai tenaga kerja. Yakni model Amerika Latin dan Asia Timur. Dan penerapan kedua model ini dilakukan Indonesia pada dua periode berbeda. Yakni pada masa Orde Baru dan setelah itu Orde Reformasi. Pada saat sebelum terjadi krisis ekonomi atau dikenal juga dengan masa Orde Baru, Indonesia lebih condong ke model Asia Timur, dengan mengabaikan undang-undang perlindungan tenaga kerja, “pengkerdilan” peran serikat pekerja oleh pemerintah, dll. Sedangkan saat ini pemerintah menggunakan model Amerika Latin, dengan melindungi buruh di sektor modern secara ekstensif , luas, atau agresif.

Namun sebenarnya kebijakan upah minimum dan perlindungan tenaga kerja yang agresif bisa saja merugikan kepentingan sebagian besar pekerja. Bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebijakan yang agresif adalah bahwa kesenjangan antara pekerja disektor modern dan tradisional akan makin melebar, dan pertumbuhan kesempatan kerja dalam pekerjaan lebih baik (better jobs) akan melambat. Begitu juga surplus tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern juga akan ikut melambat. Hal yang sangat dibutuhkan adalah kebijakan upah minimum dan kebijakan perlindungan buruh yang paling efektif bagi semua pekerja, baik yang berada di sektor modern dan tradisional.

Dalam perjalanannya penerapan konsep-konsep konvensional ini menemukan kebuntuan, karena konsep-konsep konvensional ini juga memiliki kekurangan. Oleh karena itu Islam bisa dijadikan alternatif sebagai solusi memecah kebuntuan tersebut. Misal, masih banyak hak-hak tenaga kerja yang belum terpenuhi. Standar kesejahteraan tenaga kerja yang masih rendah. Islam sangat menentang hal-hal tersebut. Dalam Islam, hak-hak manusia telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah telah memberikan semua apa yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini, udara untuk bernafas, air untuk minum, dll. Jika Allah berbuat demikian, mengapa masih ada manusia yang mengekang hak-hak manusia yang lain, mengapa masih ada majikan yang tidak memenuhi hak-hak pekerjanya.

Dari sini dapat kita lihat perbedaan yang mendasar antara pandangan Islam dan konvensional. Perbedaan tersebut ada dua. Yakni (1) Islam melihat upah sangat besar kaitannya dengan konsep moral atau kemanusiaan sedangkan konvensional tidak. (2) Upah dalam Islam tidak hanya sebatas materi. Tetapi juga menembus batas kehidupan, yaitu dimensi akhirat yang disebut juga dengan pahala sedangkan konvensional tidak.

Islam adalah solusi dari berbagai macam problema yang ada didunia ini, tak terkecuali problema dalam bidang ekonomi. Oleh sebab itu marilah kita sama-sama sadari bahwa sudah saatnya kita untuk kembali ke jalan agama, mencari solusi melalui agama, mempelajari agama secara kaffah atau menyeluruh. Dengan demikian kita lebih siap untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan permasalahan yang rumit ini. (PM)

 

berbisnis dengan kebaikan hati

 
Berbisnis Dengan Kebaikan Hati

 

Alih-alih mengenalkan konsep baru pada layanan pelanggan, inilah saatnya mengenalkan kembali kebaikan yang sudah lama memudar ..
 
Kembali ke "hari," jika Anda ingin sukses dalam bisnis, semuanya terkait dengan kebaikan hati dan apa yang dirasakan seseorang setelah melakukan transaksi bisnis dengan Anda. Inilah yang membuat mereka terus kembali, meski produk Anda biasa-biasa saja.  
 
Mari kita lihat, kita semua ingin diperlakukan dengan baik di setiap aspek kehidupan kita. Tapi saat ini sudah mulai memudar karena kecanggihan teknologi dan dunia korporat yang bergerak cepat.  
 
Namun pertimbangkan ini, ada sebuah cara untuk berbisnis dibawah kondisi yang menekan dengan mengadopsi filosofi ‘lama’ yang akan membuat Anda berbeda dan unik serta tidak menguras biaya.  Pada kenyataannya, ini akan menghemat uang karena orang yang baik hati dan bahagia lebih bersemangat dalam bekerja dan betah di perusahannya.  
 
Mulai dengan menempatkan empati dan hasrat dalam kehidupan kerja Anda. Dengan memiliki kemampuan melihat bisnis dari sisi manusia, model bisnis baru ini yang didasarkan pada hal lama bisa terlahir kembali. Tapi kali ini akan terlihat segar dan baru. Gunakan kebaikan yang sederhana sebagai panduan.  
 
Jika Anda menghadapi ini, tanyakan pada diri Anda: Adakah alasan dimana dimasing-masing hari tidak bisa menjadi yang terbaik bagi Anda dan setiap orang yang Anda hadapi? Yang terpenting adalah, kami adalah manusia yang juga berhubungan dengan sesama yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Jadi mengapa tidak memenuhinya dengan cepat dan bahagia?
 
Dengan meletakkan “servis” baru,  setiap orang menjadi pemenang. Dan ketika seseorang merasa diperlakukan dengan baik dan dengan hormat ketika berbisnis dengan Anda, peluang akan berjalan dengan mulus dan efisien. 
 
Tapi bagaimana jika Anda merasa terserang dan seseorang yang bekerja sama dengan Anda kasar dan tidak masuk akal? Berikut beberapa tip untuk berbisnis dengan cara yang baik, meski Anda berada disituasi yang berat :
 
1. Pertama, lihat arti tersembunyi pada agenda. Apa yang dikhawatirkan orang tersebut (terlebih mengenai finansial). Ketahui selalu ada alasan mengapa seseorang kesal dan Anda yang memiliki kemampuan untuk memecahkan isu jika Anda bertindak dengan hasrat dan melihat situasi dari perspektif orang lain sebelum merespon.  
 
2. Ingatlah, orang tidak terlahir dengan rasa marah. Mereka menjadi marah karena situasi negatif  dimana mereka merasa terancam. Mereka bereaksi karena ketakutan.  
 
3. Meminta maaf , meski terdengar tidak masuk akal, yang menunjukkan empati tingkat stres seseorang. 
 
4. Menjelaskan rencana tindakan, kerangka waktu penyelesaian rencana dan pencapaian tujuan yang dimaksud.  
 
5. Mengangkat pada manajer yang berpengalaman dalam menganalisa situasi dan terkait dan mengatasi isu secara obyektif jika diperlukan.  
 
Ingatlah hasil yang diharapkan adalah win-win. 
 
Setiap orang, terlepas dari apakah mereka pelanggan aktual, harus diperlakkukan dengan cara yang tepat.  
 
Bisakah Anda membuat hari seseorang menjadi lebih baik? Bisakah Anda memperbaiki keyakinan. Bisakah Anda mengembalikan keyakinan pada dasarnya orang baik? Bisakah Anda berbisnis dengan suka cita disaat situasi yang kurang menyenangkan? Jawabannya ya, Anda bisa! Dengan sikap dan perspektif yang tepat, setiap orang bisa menjadi pemenang di setiap saat.  
 
Sumber:www.customerservicemanager.com
Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com